Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Model Hewan Coba untuk Penelitian Immunomodulator, Diabetes Mellitus, dan Hipertensi pada Kamis–Jumat, 27–28 November 2025. Kegiatan yang berlangsung di lingkungan Departemen Farmakologi dan Terapi ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas penelitian praklinik di bidang farmakologi dan ilmu biomedis.
Pelatihan
Latar Belakang
Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan angka kejadian yang terus meningkat. Sementara itu, sistem imun memainkan peran krusial dalam respons tubuh terhadap kanker dan berbagai penyakit lainnya. Penelitian mengenai immunomodulator, baik sebagai terapi kanker maupun untuk penyakit autoimun dan infeksi, semakin berkembang dan membutuhkan pendekatan yang lebih baik dalam pemodelan hewan coba.
Untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan relevan dengan kondisi klinis manusia, diperlukan pemahaman mendalam tentang pemilihan, pembuatan, serta validasi model hewan coba untuk kanker dan immunomodulator. Oleh karena itu, Departemen Farmakologi dan Terapi FKKMK UGM bermaksud mengadakan Pelatihan Model Hewan Coba untuk Penelitian Kanker dan Immunomodulator.
Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM menyelenggarakan Workshop Pemanfaatan Medical Record dalam Penelitian Klinis pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan profesi kesehatan yang ingin memperkuat kemampuan riset klinis berbasis data rekam medis. Melalui workshop ini, peserta mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai pemanfaatan medical record sebagai sumber data penting dalam penelitian klinis modern.
Dalam sesi pertama, pemateri menjelaskan fungsi medical record dalam pelayanan kesehatan serta peran strategisnya dalam penelitian klinis. Peserta diajak memahami struktur dan isi rekam medis, variasi format data, serta bagaimana rekam medis digunakan untuk menilai luaran kesehatan, efektivitas terapi, hingga pola penggunaan obat pada populasi pasien. Selanjutnya, peserta mendapatkan materi mengenai aspek etika dalam penggunaan rekam medis untuk penelitian, termasuk kerahasiaan identitas pasien, prinsip persetujuan etik, serta regulasi yang berlaku di Indonesia.
Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang bertujuan memperluas wawasan dan keterampilan praktis di bidang terapi berbasis genetika melalui Workshop Pharmacogenomics Role in Precision Medicine pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari lingkungan akademik dan praktisi kesehatan yang antusias mempelajari aplikasi farmakogenomik dalam praktik kedokteran modern.
Workshop ini dirancang untuk menggabungkan teori dan praktik laboratorium sehingga peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai tahapan analisis genetik yang berperan penting dalam pengembangan pengobatan presisi. Kegiatan dipandu oleh para dosen dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM yang memiliki keahlian di bidang farmakogenomik. Para peserta melakukan serangkaian praktikum yang mencakup DNA isolation, single nucleotide polymorphism (SNP) genotyping menggunakan teknik real-time polymerase chain reaction (RT-PCR), serta pembacaan hasil sekuensing untuk mengidentifikasi variasi genetik yang dapat memengaruhi respon obat.
Upaya memperkuat implementasi precision medicine di Indonesia kembali mendapatkan momentum melalui kegiatan Webinar “Pharmacogenomics Role in Precision Medicine” yang diselenggarakan dalam rangka 7th Jogjakarta Annual Meeting of Pharmacology and Therapy (JAPEMETHE) serta Rapat Koordinasi Nasional Ikatan Farmakologi Indonesia (Rakornas IKAFARI) 2025. Kegiatan ini diikuti oleh akademisi, peneliti, tenaga kesehatan, dan mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia yang menunjukkan tingginya perhatian terhadap implementasi farmakogenomik dalam praktik klinik.
Dalam kesempatan tersebut, peserta diajarkan metode praktis untuk mendeteksi keberadaan formalin, boraks, dan merkuri pada bahan pangan menggunakan rapid test. Tiga zat tersebut kerap ditemukan sebagai bahan tambahan ilegal yang membahayakan kesehatan, mulai dari gangguan organ hingga risiko kanker. Dengan penguasaan teknik deteksi sederhana namun akurat, tenaga kesehatan di Puskesmas diharapkan dapat melakukan pemantauan lebih efektif terhadap peredaran pangan di masyarakat.
dr. Yolanda menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar mudah diaplikasikan di lapangan tanpa memerlukan laboratorium canggih. Peserta diajak melakukan praktik langsung dengan sampel makanan sehingga dapat memahami langkah-langkah pemeriksaan secara runtut. Selain itu, dibahas pula strategi komunikasi risiko kepada masyarakat agar hasil temuan dapat ditindaklanjuti dengan edukasi yang tepat.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Imogiri II menyambut baik kegiatan ini dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keamanan pangan di wilayah kerja mereka. Menurutnya, keterampilan ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap peran Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan.
Pelatihan ini tidak hanya mendukung upaya peningkatan kesehatan (selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tetapi juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memperoleh pengetahuan baru (SDG 4: Pendidikan Berkualitas). Lebih jauh, kerja sama antara FK-KMK UGM dengan Puskesmas Imogiri II menunjukkan pentingnya kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17).
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan di Puskesmas mampu melakukan deteksi dini terhadap cemaran kimia berbahaya pada makanan, sehingga masyarakat dapat terlindungi dari risiko kesehatan jangka panjang. Kegiatan serupa diharapkan terus digalakkan untuk memperluas jangkauan pengawasan keamanan pangan di berbagai wilayah.
Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar dengan Topik Produk Biosimilar
Produk biosimilar merupakan produk biologi yang sangat mirip dengan produk biologis originator yang telah habis masa patennya. Produk ini menawarkan peluang besar untuk meningkatkan akses pasien terhadap terapi efektif dengan harga terjangkau. Berbagai produk telah dikembangkan, khususnya pada penyakit kronis dan mengancam jiwa seperti kanker dan gangguan autoimun. Meski demikian, kompleksitas struktur protein, persyaratan regulasi, kekhawatiran imunogenisitas, serta kebutuhan sistem farmakovigilans yang kuat menjadi tantangan tersendiri bagi produk biosimilar.
Prof. Sri Suryawati menguraikan kompleksitas pengembangan biosimilar, menekankan pentingnya pembuktian kesetaraan mutu, fungsi, dan keamanan dengan produk rujukan. Apt. Tri Asti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membahas kerangka regulasi di Indonesia yang semakin selaras dengan pedoman WHO dan standar internasional. Ibu Asti menekankan pentingnya kolaborasi regulator, industri, dan akademisi untuk memperkuat kapasitas produksi dan ketahanan nasional.
Prof. Jarir At Thobari menyoroti peran krusial farmakovigilans pasca pemasaran dalam memantau keamanan dan imunogenisitas biosimilar. Ia menggarisbawahi perlunya sistem pelaporan yang tangguh, penelusuran produk yang jelas, dan data jangka panjang. Dari perspektif klinis, dr. Pinzon membagikan pengalaman penggunaan biosimilar pada penyakit neurologi seperti multiple sclerosis. Ia menekankan isu keterbandingan, efek nocebo, dan pentingnya komunikasi dengan pasien dalam proses peralihan obat.
Webinar ini memberikan refleksi bahwa keberhasilan adopsi produk biosimilar memerlukan upaya terpadu antara regulator, industri, akademisi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan. Pendekatan kolaboratif akan memperkuat pengembangan teknologi, kapasitas riset klinis, pengawasan keamanan, serta kepercayaan pasien.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan akses terhadap obat yang aman dan efektif, SDG 4 (Quality Education) dengan menyediakan forum edukasi ilmiah bagi tenaga kesehatan dan peneliti, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan strategis lintas sektor demi kemandirian farmasi dan keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan teknik penanganan dan prosedur keamanan sesuai standar internasional. Melalui bimbingan instruktur berpengalaman, peserta mempraktikkan cara menangani hewan coba dengan benar, mengelola sampel secara tepat, dan meminimalkan risiko kesalahan prosedur.
Praktikum ini dirancang untuk membangun keterampilan teknis yang esensial dalam riset biomedis. Penekanan diberikan pada perlakuan yang menjunjung kesejahteraan hewan coba, ketelitian dalam pengambilan dan pengolahan sampel, serta pemahaman risiko biologis dan langkah pencegahannya. Pendekatan hands-on ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam melaksanakan penelitian yang berkualitas. Dengan bekal keterampilan praktis dari hari kedua ini, peserta diharapkan mampu menerapkan prosedur penanganan hewan coba secara tepat dalam penelitian dan memperoleh hasil yang valid secara ilmiah.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-Being) terwujud melalui peningkatan kapasitas penelitian kesehatan yang aman dan bertanggung jawab. SDG 4 (Quality Education) tercermin dalam penyediaan pelatihan berbasis praktik yang memperkuat kompetensi akademik dan profesional. SDG 17 (Partnerships for the Goals) diwujudkan melalui kolaborasi lintas profesi dan disiplin ilmu dalam mendukung riset berkelanjutan.
Pelatihan bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola hewan coba secara etis, aman, dan sesuai standar internasional, sehingga kualitas penelitian biomedis dapat terjamin. Materi yang diberikan meliputi: prinsip etika penggunaan hewan coba, prinsip penanganan untuk isolasi sel, penanganan sampel untuk pemeriksaan lanjutan, prinsip umum penanganan hewan coba laboratorium, pengenalan dan perawatan hewan coba untuk penelitian biomedis, serta teknik breeding dan pemeliharaan.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan perkuliahan intensif yang membahas konsep dasar serta prinsip penanganan hewan coba dan sampel yang dihasilkan. Pemateri menekankan bahwa kesejahteraan hewan coba merupakan bagian integral dari validitas ilmiah suatu penelitian. Pengetahuan ini diharapkan dapat mencegah kesalahan prosedur yang dapat memengaruhi data dan menjaga standar etika penelitian.
Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-Being) diwujudkan melalui penguatan kapasitas penelitian kesehatan. SDG 4 (Quality Education) tercermin dari penyediaan pelatihan berkualitas bagi tenaga pendidik, peneliti, dan mahasiswa. SDG 17 (Partnerships for the Goals) tampak dari kolaborasi lintas disiplin yang terjalin antara akademisi, praktisi, dan peneliti.
MATERI WEBINAR
Latar Belakang Kegiatan
Farmakovigilans adalah seluruh kegiatan tentang pendeteksian, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping atau masalah lainnya terkait dengan penggunaan obat. Keamanan penggunaan obat beredar harus secara terus menerus dipantau karena keterbatasan informasi keamanan pada fase pengembangan obat (uji klinik). Pemantauan ini dilakukan melalui aktivitas farmakovigilans. Tujuan dilakukannya farmakovigilans adalah untuk mendeteksi masalah keamanan atau potensi risiko obat yang belum diketahui, mendeteksi peningkatan frekuensi kejadian efek samping, mengkomunikasikan informasi keamanan obat, dan pencegahan terjadinya risiko keamanan obat.
Potensi risiko merugikan akibat penggunaan obat merupakan permasalahan yang menjadi perhatian khusus bagi pasien, tenaga kesehatan, pemegang izin edar, dan otoritas regulatori. Seringkali kejadian yang tidak diinginkan dalam penggunaan obat menjadi penyebab masalah medis yang dapat memperparah kondisi penyakit.
Penggunaan produk biosimilar perlu mendapatkan perhatian khusus dalam hal masalah mutu, efikasi, dan keamanan karena adanya potensi risiko reaksi yang tidak diinginkan terkait dengan imun. Hal ini disebabkan oleh ukuran molekul pada produk biosimilar yang dapat memicu reaksi antibodi (imunogenicity). Reaksi tersebut dapat berdampak terhadap efikasi dan keamanan dari sebuah produk. Oleh karena itu, aktivitas farmakovigilans sangat diperlukan untuk menimalkan risiko. Uji pre-klinik, uji klinik, dan analisis yang tepat diperlukan untuk mengkonfirmasi kemiripan dan non-inferioritas antara produk biosimilar dan biologic reference product. Data dari studi-studi ini harus mengkonfirmasi bahwa kedua produk memiliki hasil klinis yang serupa dan non-inferior.
Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) bermaksud mengadakan seminar online mengenai Efikasi dan Keamanan Produk Biosimilar pada Era Patient Safety dengan narasumber dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tenaga kesehatan terkait pentingnya farmakovigilans dalam menimalisir risiko pengobatan serta meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup pasien.
Tujuan Kegiatan
Tujuan Umum
Memahami regulasi, tantangan, dan peluang terkait efikasi dan keamanan produk biosimilar di Indonesia, serta peran farmakovigilans dan implikasi klinis penggunaan biosimilar terhadap treatment outcomes dan patient safety.
Tujuan Khusus