Dua dosen Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada turut berpartisipasi dalam Kongres ke-59 EUROTOX 2025, yang diselenggarakan oleh European Societies of Toxicology pada 14–17 September 2025 di Athena, Yunani. Kongres internasional bergengsi ini mengusung tema “Toxicology Addresses Society’s Real Life Risk for Sustainable Health and Well Being”, yang menyoroti peran toksikologi dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat dan lingkungan secara berkelanjutan.
Salah satu narasumber utama adalah Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Dr.rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc. Dalam paparannya, Arko menegaskan pentingnya penggunaan obat secara bijak dalam mendukung aktivitas kebugaran, khususnya bagi atlet profesional. “Pemilihan obat tidak boleh sembarangan. Harus berbasis diagnosis, legalitas, dan sesuai regulasi Badan Anti Doping Dunia (WADA). Peran farmakolog sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan serta kepatuhan dalam penanganan cedera,” jelasnya. Pandangan ini memperkuat pesan bahwa aspek farmakologi memiliki kontribusi vital dalam pengembangan smart wellness tourism.
Webinar ini juga menghadirkan apt. Firda Ridhayani, M.Clin.Pharm., staf pengajar FK-KMK UGM, yang berperan sebagai moderator. Firda mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif sehingga peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai keterkaitan olahraga, gizi, farmakologi, dan manajemen cedera. Kombinasi narasumber berpengalaman dan moderator yang komunikatif membuat kegiatan ini berlangsung dinamis dan sarat manfaat.
Selain menekankan aspek medis, webinar turut membuka ruang bagi mahasiswa Magister Ilmu Biomedik untuk menyampaikan diseminasi ilmiah, yang menambah nilai akademis sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam pengabdian berbasis pengetahuan. Dukungan berbagai pihak, termasuk Pusat Kedokteran Herbal dan PPKORI DIY, memperlihatkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong sinergi kesehatan dan pariwisata. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya: SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) melalui edukasi pencegahan dan penanganan cedera olahraga, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat diseminasi ilmu dan pembelajaran publik, SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur) dengan pengembangan platform daring pengecekan produk doping, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademisi, praktisi, dan komunitas dalam menyukseskan wellness tourism.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan dukungan para pakar, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Yogyakarta untuk memperkuat citra sebagai pusat wellness tourism nasional, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
Pada kesempatan tersebut, apt. Firda Ridhayani, M.Clin.Pharm., menyampaikan materi dengan topik “Tantangan dan Kesiapan Departemen dalam Pengujian Produk Biosimilar”. Topik ini diangkat sejalan dengan perkembangan pesat terapi biologis, termasuk biosimilar, yang menuntut kesiapan tenaga akademik dan peneliti dalam memahami regulasi, metodologi, serta aspek klinis yang menyertainya.
Kegiatan CME ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga wadah diskusi strategis untuk memperkuat kapasitas Departemen dalam menghadapi dinamika penelitian dan pengembangan produk biosimilar. Diskusi membahas peran akademisi dalam mendukung pengujian yang berbasis bukti ilmiah, serta pentingnya kolaborasi lintas bidang dalam menjawab tantangan di lapangan.
Penyelenggaraan CME ini sejalan dengan upaya Departemen Farmakologi dan Terapi mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan mendorong akses pada terapi yang aman dan efektif melalui pemahaman yang komprehensif mengenai biosimilar. Selanjutnya, melalui peningkatan kapasitas dosen, kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam ranah pendidikan tinggi kedokteran. Di sisi lain, diskusi yang mengarah pada peluang kolaborasi dengan industri farmasi menunjukkan praktik nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)
Selama lebih dari tiga puluh lima tahun mengabdi, Prof. Erna dikenal sebagai sosok akademisi yang konsisten mengembangkan ilmu farmakologi di Indonesia, khususnya di bidang farmakoepidemiologi dan farmakoekonomi. Beliau berperan aktif dalam memajukan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sekaligus menjadi inspirasi bagi dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan. Melalui berbagai karya ilmiah dan keterlibatan dalam forum akademik nasional maupun internasional, Prof. Erna telah ikut membangun reputasi Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM di kancah global. Dalam sambutannya, Ketua Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Eti Nurwening Sholikah, M.Kes., M.Med.Ed., Sp.KKLP., menyampaikan penghargaan mendalam atas pengabdian Prof. Erna. Beliau menekankan bahwa warisan ilmu, pengalaman, dan teladan yang ditinggalkan akan menjadi pijakan penting bagi generasi berikutnya untuk terus berkarya.
Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena menekankan pentingnya peran pendidik dalam membangun kapasitas dan kualitas sumber daya manusia di bidang kesehatan. Selain itu, penghargaan purnabakti ini juga mendukung SDGs poin 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, mengingat perjalanan karier Prof. Erna sarat dengan kerja sama lintas disiplin, baik di dalam negeri maupun internasional, yang memperkuat jejaring keilmuan dan penelitian.

Dengan berakhirnya masa tugas beliau, Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM berharap semangat, integritas, dan kontribusi Prof. Erna tetap menjadi inspirasi. Meskipun memasuki masa purnabakti, dedikasi dan kiprah beliau diyakini akan terus memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat Indonesia.

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Peranan Farmakovigilans dalam Pengawalan Keamanan Obat untuk Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Aman dan Efektif bagi Individu dan Masyarakat Indonesia: Menyongsong Era Kedokteran Presisi”, Prof. dr. Nafrialdi, Ph.D., Sp.PD., Sp.FK. menekankan pentingnya farmakovigilans. Bidang ini merupakan disiplin ilmu yang berfokus pada deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping obat (ESO) maupun masalah terkait obat lainnya.
Prof. Nafrialdi menjelaskan bahwa perkembangan kedokteran presisi menuntut sistem farmakovigilans yang lebih kuat. Dengan pemantauan obat yang komprehensif, masyarakat akan mendapatkan layanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan individu. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia serta penguatan riset farmakologi klinik.
Partisipasi FK-KMK UGM dalam kegiatan ini tidak hanya mencerminkan komitmen dalam mendukung pengembangan ilmu farmakologi, tetapi juga mempertegas peran perguruan tinggi dalam membangun sinergi antar-lembaga. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi penelitian, pendidikan, dan praktik klinis di masa depan.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan keamanan obat bagi masyarakat, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat penguatan peran akademisi dalam pengembangan ilmu, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara dua institusi besar, UGM dan UI, demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan nasional.
Dalam kesempatan tersebut, peserta diajarkan metode praktis untuk mendeteksi keberadaan formalin, boraks, dan merkuri pada bahan pangan menggunakan rapid test. Tiga zat tersebut kerap ditemukan sebagai bahan tambahan ilegal yang membahayakan kesehatan, mulai dari gangguan organ hingga risiko kanker. Dengan penguasaan teknik deteksi sederhana namun akurat, tenaga kesehatan di Puskesmas diharapkan dapat melakukan pemantauan lebih efektif terhadap peredaran pangan di masyarakat.
dr. Yolanda menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang agar mudah diaplikasikan di lapangan tanpa memerlukan laboratorium canggih. Peserta diajak melakukan praktik langsung dengan sampel makanan sehingga dapat memahami langkah-langkah pemeriksaan secara runtut. Selain itu, dibahas pula strategi komunikasi risiko kepada masyarakat agar hasil temuan dapat ditindaklanjuti dengan edukasi yang tepat.
Kepala Tata Usaha Puskesmas Imogiri II menyambut baik kegiatan ini dan menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keamanan pangan di wilayah kerja mereka. Menurutnya, keterampilan ini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap peran Puskesmas sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan.
Pelatihan ini tidak hanya mendukung upaya peningkatan kesehatan (selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera) tetapi juga memperkuat kapasitas tenaga kesehatan dalam memperoleh pengetahuan baru (SDG 4: Pendidikan Berkualitas). Lebih jauh, kerja sama antara FK-KMK UGM dengan Puskesmas Imogiri II menunjukkan pentingnya kemitraan untuk mencapai tujuan (SDG 17).
Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan tenaga kesehatan di Puskesmas mampu melakukan deteksi dini terhadap cemaran kimia berbahaya pada makanan, sehingga masyarakat dapat terlindungi dari risiko kesehatan jangka panjang. Kegiatan serupa diharapkan terus digalakkan untuk memperluas jangkauan pengawasan keamanan pangan di berbagai wilayah.
Modul Foundation of Pharmacology dirancang untuk menjadi materi pembelajaran daring yang berkualitas dan mudah diakses oleh mahasiswa kedokteran maupun tenaga kesehatan. Konten disusun dengan pendekatan berbasis kompetensi, mencakup konsep dasar farmakologi, mekanisme kerja obat, serta penerapan klinis dalam pelayanan kesehatan. Kehadiran Dr. Hadzliana Zainal dari Universiti Sains Malaysia memperkaya perspektif internasional dan memperkuat kualitas akademik materi yang disajikan.
Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3 yakni memastikan kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia melalui peningkatan kapasitas pendidikan tenaga kesehatan. Selain itu, pengembangan modul ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, dengan menyediakan sumber belajar yang dapat diakses lintas batas negara. Kolaborasi lintas institusi antara UGM dan Universiti Sains Malaysia juga sejalan dengan SDG 17, yang menekankan pentingnya kemitraan global untuk pencapaian tujuan pembangunan.
Modul ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dan tenaga kesehatan di Indonesia mengenai ilmu farmakologi yang lebih komprehensif. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat jejaring akademik di level internasional.
Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar dengan Topik Produk Biosimilar
Produk biosimilar merupakan produk biologi yang sangat mirip dengan produk biologis originator yang telah habis masa patennya. Produk ini menawarkan peluang besar untuk meningkatkan akses pasien terhadap terapi efektif dengan harga terjangkau. Berbagai produk telah dikembangkan, khususnya pada penyakit kronis dan mengancam jiwa seperti kanker dan gangguan autoimun. Meski demikian, kompleksitas struktur protein, persyaratan regulasi, kekhawatiran imunogenisitas, serta kebutuhan sistem farmakovigilans yang kuat menjadi tantangan tersendiri bagi produk biosimilar.
Prof. Sri Suryawati menguraikan kompleksitas pengembangan biosimilar, menekankan pentingnya pembuktian kesetaraan mutu, fungsi, dan keamanan dengan produk rujukan. Apt. Tri Asti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membahas kerangka regulasi di Indonesia yang semakin selaras dengan pedoman WHO dan standar internasional. Ibu Asti menekankan pentingnya kolaborasi regulator, industri, dan akademisi untuk memperkuat kapasitas produksi dan ketahanan nasional.
Prof. Jarir At Thobari menyoroti peran krusial farmakovigilans pasca pemasaran dalam memantau keamanan dan imunogenisitas biosimilar. Ia menggarisbawahi perlunya sistem pelaporan yang tangguh, penelusuran produk yang jelas, dan data jangka panjang. Dari perspektif klinis, dr. Pinzon membagikan pengalaman penggunaan biosimilar pada penyakit neurologi seperti multiple sclerosis. Ia menekankan isu keterbandingan, efek nocebo, dan pentingnya komunikasi dengan pasien dalam proses peralihan obat.
Webinar ini memberikan refleksi bahwa keberhasilan adopsi produk biosimilar memerlukan upaya terpadu antara regulator, industri, akademisi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan. Pendekatan kolaboratif akan memperkuat pengembangan teknologi, kapasitas riset klinis, pengawasan keamanan, serta kepercayaan pasien.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan akses terhadap obat yang aman dan efektif, SDG 4 (Quality Education) dengan menyediakan forum edukasi ilmiah bagi tenaga kesehatan dan peneliti, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan strategis lintas sektor demi kemandirian farmasi dan keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan teknik penanganan dan prosedur keamanan sesuai standar internasional. Melalui bimbingan instruktur berpengalaman, peserta mempraktikkan cara menangani hewan coba dengan benar, mengelola sampel secara tepat, dan meminimalkan risiko kesalahan prosedur.
Praktikum ini dirancang untuk membangun keterampilan teknis yang esensial dalam riset biomedis. Penekanan diberikan pada perlakuan yang menjunjung kesejahteraan hewan coba, ketelitian dalam pengambilan dan pengolahan sampel, serta pemahaman risiko biologis dan langkah pencegahannya. Pendekatan hands-on ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam melaksanakan penelitian yang berkualitas. Dengan bekal keterampilan praktis dari hari kedua ini, peserta diharapkan mampu menerapkan prosedur penanganan hewan coba secara tepat dalam penelitian dan memperoleh hasil yang valid secara ilmiah.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-Being) terwujud melalui peningkatan kapasitas penelitian kesehatan yang aman dan bertanggung jawab. SDG 4 (Quality Education) tercermin dalam penyediaan pelatihan berbasis praktik yang memperkuat kompetensi akademik dan profesional. SDG 17 (Partnerships for the Goals) diwujudkan melalui kolaborasi lintas profesi dan disiplin ilmu dalam mendukung riset berkelanjutan.
Pelatihan bertujuan meningkatkan pemahaman dan keterampilan peserta dalam mengelola hewan coba secara etis, aman, dan sesuai standar internasional, sehingga kualitas penelitian biomedis dapat terjamin. Materi yang diberikan meliputi: prinsip etika penggunaan hewan coba, prinsip penanganan untuk isolasi sel, penanganan sampel untuk pemeriksaan lanjutan, prinsip umum penanganan hewan coba laboratorium, pengenalan dan perawatan hewan coba untuk penelitian biomedis, serta teknik breeding dan pemeliharaan.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan perkuliahan intensif yang membahas konsep dasar serta prinsip penanganan hewan coba dan sampel yang dihasilkan. Pemateri menekankan bahwa kesejahteraan hewan coba merupakan bagian integral dari validitas ilmiah suatu penelitian. Pengetahuan ini diharapkan dapat mencegah kesalahan prosedur yang dapat memengaruhi data dan menjaga standar etika penelitian.
Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-Being) diwujudkan melalui penguatan kapasitas penelitian kesehatan. SDG 4 (Quality Education) tercermin dari penyediaan pelatihan berkualitas bagi tenaga pendidik, peneliti, dan mahasiswa. SDG 17 (Partnerships for the Goals) tampak dari kolaborasi lintas disiplin yang terjalin antara akademisi, praktisi, dan peneliti.