Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional melalui partisipasi Prof. Erna Kristin dalam Asian Conference on Pharmacoepidemiology 2025. Kegiatan ini merupakan konferensi ke-17 yang diselenggarakan oleh International Society of Pharmacoepidemiology (ISPE) di kawasan Asia dan menjadi forum ilmiah penting bagi para peneliti, regulator, serta praktisi yang bergerak di bidang farmakoepidemiologi.
Education
Latar Belakang
Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia, dengan angka kejadian yang terus meningkat. Sementara itu, sistem imun memainkan peran krusial dalam respons tubuh terhadap kanker dan berbagai penyakit lainnya. Penelitian mengenai immunomodulator, baik sebagai terapi kanker maupun untuk penyakit autoimun dan infeksi, semakin berkembang dan membutuhkan pendekatan yang lebih baik dalam pemodelan hewan coba.
Untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan relevan dengan kondisi klinis manusia, diperlukan pemahaman mendalam tentang pemilihan, pembuatan, serta validasi model hewan coba untuk kanker dan immunomodulator. Oleh karena itu, Departemen Farmakologi dan Terapi FKKMK UGM bermaksud mengadakan Pelatihan Model Hewan Coba untuk Penelitian Kanker dan Immunomodulator.
Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat sinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi dan penelitian melalui kerja sama internasional dengan Institute of Science Tokyo, Jepang. Kegiatan ini berfokus pada penguatan kolaborasi promotor dalam Program Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Melalui kerja sama ini, diharapkan kinerja serta kualitas penyelenggaraan program pascasarjana di Indonesia, khususnya pada perguruan tinggi penyelenggara PMDSU, dapat semakin meningkat.
Yogyakarta, 16 Oktober 2025 – Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan Plenary Lecture dan Konferensi bertema pengembangan teknologi kesehatan. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta baik dari kalangan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan di bidang kesehatan, dan pemateri dari dalam dan luar negeri.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekanat FK-KMK UGM setelah sambutan dari Ketua Departemen Farmakologi dan Terapi. Kegiatan ini diawali dengan dua sesi Plenary Lecture yang menghadirkan narasumber luar negeri Prof. Dr. Asrul Akmal Shafie dari Universiti Sains Malaysia membawakan materi mengenai The Role of Pharmacoeconomic on HTA and Health Product Development. Dalam materi tersebut ia menyoroti pentingnya evaluasi ekonomi dalam pengambilan keputusan terkait pengembangan produk kesehatan.
Salah satu narasumber utama adalah Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Dr.rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc. Dalam paparannya, Arko menegaskan pentingnya penggunaan obat secara bijak dalam mendukung aktivitas kebugaran, khususnya bagi atlet profesional. “Pemilihan obat tidak boleh sembarangan. Harus berbasis diagnosis, legalitas, dan sesuai regulasi Badan Anti Doping Dunia (WADA). Peran farmakolog sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan serta kepatuhan dalam penanganan cedera,” jelasnya. Pandangan ini memperkuat pesan bahwa aspek farmakologi memiliki kontribusi vital dalam pengembangan smart wellness tourism.
Webinar ini juga menghadirkan apt. Firda Ridhayani, M.Clin.Pharm., staf pengajar FK-KMK UGM, yang berperan sebagai moderator. Firda mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif sehingga peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai keterkaitan olahraga, gizi, farmakologi, dan manajemen cedera. Kombinasi narasumber berpengalaman dan moderator yang komunikatif membuat kegiatan ini berlangsung dinamis dan sarat manfaat.
Selain menekankan aspek medis, webinar turut membuka ruang bagi mahasiswa Magister Ilmu Biomedik untuk menyampaikan diseminasi ilmiah, yang menambah nilai akademis sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam pengabdian berbasis pengetahuan. Dukungan berbagai pihak, termasuk Pusat Kedokteran Herbal dan PPKORI DIY, memperlihatkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong sinergi kesehatan dan pariwisata. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya: SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) melalui edukasi pencegahan dan penanganan cedera olahraga, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat diseminasi ilmu dan pembelajaran publik, SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur) dengan pengembangan platform daring pengecekan produk doping, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademisi, praktisi, dan komunitas dalam menyukseskan wellness tourism.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan dukungan para pakar, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Yogyakarta untuk memperkuat citra sebagai pusat wellness tourism nasional, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
Pada kesempatan tersebut, apt. Firda Ridhayani, M.Clin.Pharm., menyampaikan materi dengan topik “Tantangan dan Kesiapan Departemen dalam Pengujian Produk Biosimilar”. Topik ini diangkat sejalan dengan perkembangan pesat terapi biologis, termasuk biosimilar, yang menuntut kesiapan tenaga akademik dan peneliti dalam memahami regulasi, metodologi, serta aspek klinis yang menyertainya.
Kegiatan CME ini tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga wadah diskusi strategis untuk memperkuat kapasitas Departemen dalam menghadapi dinamika penelitian dan pengembangan produk biosimilar. Diskusi membahas peran akademisi dalam mendukung pengujian yang berbasis bukti ilmiah, serta pentingnya kolaborasi lintas bidang dalam menjawab tantangan di lapangan.
Penyelenggaraan CME ini sejalan dengan upaya Departemen Farmakologi dan Terapi mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan ini mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan mendorong akses pada terapi yang aman dan efektif melalui pemahaman yang komprehensif mengenai biosimilar. Selanjutnya, melalui peningkatan kapasitas dosen, kegiatan ini turut berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), khususnya dalam ranah pendidikan tinggi kedokteran. Di sisi lain, diskusi yang mengarah pada peluang kolaborasi dengan industri farmasi menunjukkan praktik nyata dari SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan)

Dalam pidato pengukuhan berjudul “Peranan Farmakovigilans dalam Pengawalan Keamanan Obat untuk Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Aman dan Efektif bagi Individu dan Masyarakat Indonesia: Menyongsong Era Kedokteran Presisi”, Prof. dr. Nafrialdi, Ph.D., Sp.PD., Sp.FK. menekankan pentingnya farmakovigilans. Bidang ini merupakan disiplin ilmu yang berfokus pada deteksi, penilaian, pemahaman, dan pencegahan efek samping obat (ESO) maupun masalah terkait obat lainnya.
Prof. Nafrialdi menjelaskan bahwa perkembangan kedokteran presisi menuntut sistem farmakovigilans yang lebih kuat. Dengan pemantauan obat yang komprehensif, masyarakat akan mendapatkan layanan kesehatan yang lebih aman, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan individu. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia serta penguatan riset farmakologi klinik.
Partisipasi FK-KMK UGM dalam kegiatan ini tidak hanya mencerminkan komitmen dalam mendukung pengembangan ilmu farmakologi, tetapi juga mempertegas peran perguruan tinggi dalam membangun sinergi antar-lembaga. Kehadiran tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi penelitian, pendidikan, dan praktik klinis di masa depan.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan keamanan obat bagi masyarakat, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat penguatan peran akademisi dalam pengembangan ilmu, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara dua institusi besar, UGM dan UI, demi peningkatan mutu pelayanan kesehatan nasional.
Modul Foundation of Pharmacology dirancang untuk menjadi materi pembelajaran daring yang berkualitas dan mudah diakses oleh mahasiswa kedokteran maupun tenaga kesehatan. Konten disusun dengan pendekatan berbasis kompetensi, mencakup konsep dasar farmakologi, mekanisme kerja obat, serta penerapan klinis dalam pelayanan kesehatan. Kehadiran Dr. Hadzliana Zainal dari Universiti Sains Malaysia memperkaya perspektif internasional dan memperkuat kualitas akademik materi yang disajikan.
Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 3 yakni memastikan kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan bagi semua usia melalui peningkatan kapasitas pendidikan tenaga kesehatan. Selain itu, pengembangan modul ini mendukung SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, dengan menyediakan sumber belajar yang dapat diakses lintas batas negara. Kolaborasi lintas institusi antara UGM dan Universiti Sains Malaysia juga sejalan dengan SDG 17, yang menekankan pentingnya kemitraan global untuk pencapaian tujuan pembangunan.
Modul ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa dan tenaga kesehatan di Indonesia mengenai ilmu farmakologi yang lebih komprehensif. Langkah ini tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga memperkuat jejaring akademik di level internasional.
Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar dengan Topik Produk Biosimilar
Produk biosimilar merupakan produk biologi yang sangat mirip dengan produk biologis originator yang telah habis masa patennya. Produk ini menawarkan peluang besar untuk meningkatkan akses pasien terhadap terapi efektif dengan harga terjangkau. Berbagai produk telah dikembangkan, khususnya pada penyakit kronis dan mengancam jiwa seperti kanker dan gangguan autoimun. Meski demikian, kompleksitas struktur protein, persyaratan regulasi, kekhawatiran imunogenisitas, serta kebutuhan sistem farmakovigilans yang kuat menjadi tantangan tersendiri bagi produk biosimilar.
Prof. Sri Suryawati menguraikan kompleksitas pengembangan biosimilar, menekankan pentingnya pembuktian kesetaraan mutu, fungsi, dan keamanan dengan produk rujukan. Apt. Tri Asti dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) membahas kerangka regulasi di Indonesia yang semakin selaras dengan pedoman WHO dan standar internasional. Ibu Asti menekankan pentingnya kolaborasi regulator, industri, dan akademisi untuk memperkuat kapasitas produksi dan ketahanan nasional.
Prof. Jarir At Thobari menyoroti peran krusial farmakovigilans pasca pemasaran dalam memantau keamanan dan imunogenisitas biosimilar. Ia menggarisbawahi perlunya sistem pelaporan yang tangguh, penelusuran produk yang jelas, dan data jangka panjang. Dari perspektif klinis, dr. Pinzon membagikan pengalaman penggunaan biosimilar pada penyakit neurologi seperti multiple sclerosis. Ia menekankan isu keterbandingan, efek nocebo, dan pentingnya komunikasi dengan pasien dalam proses peralihan obat.
Webinar ini memberikan refleksi bahwa keberhasilan adopsi produk biosimilar memerlukan upaya terpadu antara regulator, industri, akademisi, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan. Pendekatan kolaboratif akan memperkuat pengembangan teknologi, kapasitas riset klinis, pengawasan keamanan, serta kepercayaan pasien.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan akses terhadap obat yang aman dan efektif, SDG 4 (Quality Education) dengan menyediakan forum edukasi ilmiah bagi tenaga kesehatan dan peneliti, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan kemitraan strategis lintas sektor demi kemandirian farmasi dan keberlanjutan sistem kesehatan nasional.

Peserta memperoleh kesempatan untuk menerapkan teknik penanganan dan prosedur keamanan sesuai standar internasional. Melalui bimbingan instruktur berpengalaman, peserta mempraktikkan cara menangani hewan coba dengan benar, mengelola sampel secara tepat, dan meminimalkan risiko kesalahan prosedur.
Praktikum ini dirancang untuk membangun keterampilan teknis yang esensial dalam riset biomedis. Penekanan diberikan pada perlakuan yang menjunjung kesejahteraan hewan coba, ketelitian dalam pengambilan dan pengolahan sampel, serta pemahaman risiko biologis dan langkah pencegahannya. Pendekatan hands-on ini diyakini mampu meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam melaksanakan penelitian yang berkualitas. Dengan bekal keterampilan praktis dari hari kedua ini, peserta diharapkan mampu menerapkan prosedur penanganan hewan coba secara tepat dalam penelitian dan memperoleh hasil yang valid secara ilmiah.
Pelaksanaan kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). SDG 3 (Good Health and Well-Being) terwujud melalui peningkatan kapasitas penelitian kesehatan yang aman dan bertanggung jawab. SDG 4 (Quality Education) tercermin dalam penyediaan pelatihan berbasis praktik yang memperkuat kompetensi akademik dan profesional. SDG 17 (Partnerships for the Goals) diwujudkan melalui kolaborasi lintas profesi dan disiplin ilmu dalam mendukung riset berkelanjutan.