Universitas Gadjah Mada Departemen Farmakologi dan Terapi
Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sambutan
    • Sekilas Pandang
    • Sejarah
    • Struktur Organisasi
    • Visi & Misi
    • Staf
  • Divisi
    • Farmakogenomik
    • Farmakologi dan Toksikologi Eksperimental
    • Etnofarmakologi
    • Farmakologi Klinik dan Kebijakan Obat
    • Farmakoepidemiologi, Farmakovigilan, dan Farmakoekonomi
  • Pendidikan
    • Program Sarjana
    • Program Pasca Sarjana
      • Praktikum In Vitro
  • Penelitian
    • Alur Perijinan Penelitian
    • Alur Perijinan Pengujian
    • Publikasi dan Penghargaan
    • Video Penelitian
    • Prosiding
      • Seminar “Peran Herbal untuk Mencegah Proses Degenerasi”
  • Fasilitas
    • Daftar Harga Layanan
    • Alur Penggunaan Fasilitas Laboratorium
    • Uji Toksisitas Akut Oral
    • Uji Toksisitas Subkronik Oral
    • Alat High Performance Liquid Chromatography
    • Laboratorium Kultur Sel
    • Laboratorium Pendidikan Terpadu
  • Pelatihan
    • Symposium and Workshop Registration Form “Drug Toxicology From Molecular to Clinical”
    • Prosiding Seminar “Peran Herbal untuk Mencegah Proses Degenerasi”
    • Berita
  • Kegiatan
    • Pengabdian Masyarakat
    • Seminar dan Kursus
  • Pusat Kedokteran Presisi
  • Beranda
  • abdimas
  • abdimas
Arsip:

abdimas

Pengabdian Masyarakat UGM Dorong Pencegahan Leptospirosis dan Ketahanan Gizi melalui Program REWANG di Sompok, Imogiri, Bantul

Beritadaily lfe Tuesday, 18 November 2025

Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM Bersama Departemen Mikrobiologi menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan pada Sabtu, 15 November 2025, di Padukuhan Sompok, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini mengusung tema “Pengendalian Leptospirosis dan Pemberdayaan Masyarakat melalui REWANG (Relawan dan Warga Antisipasi Keracunan Pangan dan Peduli Gizi Seimbang)”. read more

Partisipasi Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi dalam Pengabdian Masyarakat Klaster Biomedis FK-KMK UGM di SMP Negeri 2 Imogiri

Beritadaily lfe Wednesday, 6 August 2025

Klaster Biomedis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Negeri 2 Imogiri pada 6 Agustus 2025. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, yaitu dr. Rul dan dr. Yolanda, yang turut berperan aktif dalam seluruh rangkaian acara.

Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan dan mendorong perilaku hidup sehat di kalangan remaja. Rangkaian kegiatan meliputi pemeriksaan kesehatan dasar bagi siswa, yang mencakup pengukuran tekanan darah, pemeriksaan tinggi dan berat badan, serta penilaian status gizi. Selain itu, tersedia layanan konsultasi kesehatan yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkonsultasi langsung mengenai masalah kesehatan fisik maupun kebiasaan hidup sehari-hari. read more

Tim Departemen Berpartisipasi Aktif pada Pengabdian Masyarakat dalam Rangka Dies Natalis FK-KMK UGM ke-79

Beritadaily lfe Thursday, 20 February 2025

Tim dari Departemen Farmakologi dan Terapi turut berpartisipasi pada kegiatan pengabdian masyarakat dalam rangka Dies Natalis FK-KMK ke-79, RSA UGM ke-13, RSUP Dr Sardjito ke-43 dan RSUP Dr Soeradji Tirtonegoro ke-97. Tema yang diangkat dalam kegiatan ini adalah “The Greatest Wealth is Health”. Acara ini diselenggarakan di Dusun Sompok, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Pembukaan kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, Kepala Puskesmas Imogiri II, Lurah Sriharjo, dan Panewu Imogiri. Kegiatan ini diisi dengan pemeriksaan gratis dan edukasi kesehatan.

Tema kegiatan ini berangkat dari bagaimana memaknai kesehatan sebagai aset paling berharga dalam kehidupan. Tidak peduli seberapa banyak kekayaan materi yang dimiliki seseorang, jika tidak sehat, mereka tidak dapat menikmatinya dengan optimal. Masyarakat perlu memahami bahwa investasi dalam gaya hidup sehat lebih baik daripada menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan setelah sakit. Pemerintah juga perlu mendukung program kesehatan preventif, seperti imunisasi, skrining penyakit, dan edukasi gizi. Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang untuk bekerja lebih produktif, merawat keluarga, dan berkontribusi pada komunitas. Sebaliknya, jika banyak warga sakit, ekonomi dan kesejahteraan sosial juga akan terdampak.

Staf dosen dan tenaga kependidikan Departemen Farmakologi dan Terapi ikut bertugas dalam kegiatan ini antara lain dengan memberikan konsultasi kesehatan pada warga dusun Sompok, menjadi among tamu bagi para warga dan pemangku kepentingan yang hadir, melakukan pemeriksaan tinggi badan/berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan darah, penghitungan Indeks Massa Tubuh, serta menyiapkan administrasi dan konsumsi kegiatan. Kegiatan ini merupakan langkah mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Akademia, program Abdimas Departemen Farmakologi dan Terapi dalam pengentasan anemia remaja putri di lingkungan kampus

Berita Monday, 30 December 2024

Anemia merupakan masalah yang sering ditemui pada populasi remaja, terutama remaja putri dan sering dikaitkan dengan morbiditas kesehatan ibu dan anak di masa mendatang. Program nasional untuk pengentasan anemia telah berjalan selama bertahun-tahun melalui pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi populasi remaja putri. Namun program tersebut hanya menyasar populasi remaja putri di tingkat sekolah menengah, dan belum menjangkau populasi mahasiswa.

Dengan dukungan pendanaan program Abdimas FK-KMK UGM tahun 2024, Departemen Farmakologi dan Terapi menyelenggarakan Akademia (Aksi Kampus Peduli Anemia) yaitu program yang bertujuan untuk menyediakan layanan manajemen anemia secara holistik bagi populasi remaja putri di lingkungan kampus. Kegiatan ini terdiri atas layanan kesehatan terintegrasi, meliputi deteksi dini, tatalaksana, monitoring, media promotif-preventif, dan edukasi gizi berkaitan dengan anemia. Akademia telah berjalan sejak Maret 2024, termasuk skrining aktif kadar hemoglobin (Hb) terhadap 412 peserta mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan partisipasi mahasiswa, dosen, dan alumni FK-KMK, UGM.

Dari kegiatan skrining tersebut diperoleh data bahwa sebanyak 66.3% partisipan memiliki kadar Hb di bawah rata-rata (5.9% masuk kategori anemia berat) dan 57.8% mengeluhkan sedikitnya satu gejala anemia. Selain kegiatan skrining, Akademia juga melaksanakan program tatalaksana anemia secara komprehensif bagi mahasiswa dengan anemia simtomatis. Program ini meliputi pemberian tablet tambah darah selama 12 minggu, edukasi gizi, edukasi gaya hidup, dan monitoring kadar Hb secara rutin. Sampai dengan Desember 2024, sebanyak 63 peserta telah mengikuti program tatalaksana anemia komprehensif. Di masa mendatang, program Akademia diharapkan dapat menjadi program piloting manajemen anemia holistik bagi remaja putri usia kuliah.

 

Tim Dosen Farmakologi FKKMK UGM Menyelenggarakan Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat di Desa Banyurejo sebagai Deteksi Dini Penyakit Diabetes dan Kanker Payudara

Beritablog Friday, 20 September 2024

Penyakit tidak menular (PTM) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia, termasuk di Indonesia. Diabetes mellitus dan kanker payudara adalah dua jenis PTM yang memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup individu.

Diabetes mellitus, khususnya tipe 2, ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat resistensi insulin atau kekurangan produksi insulin. Kondisi ini sering kali berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan kerusakan ginjal. Gaya hidup sehat, seperti pola makan yang seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pengendalian berat badan, memainkan peran penting dalam pencegahan diabetes mellitus.

Kanker payudara, di sisi lain, adalah jenis kanker paling umum pada wanita dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Deteksi dini melalui pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis (sadanis) sangat penting untuk meningkatkan kemungkinan kesembuhan. Faktor risiko kanker payudara meliputi riwayat keluarga, usia, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan PTM, tim dosen bersama tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Dusun Senoboyo, Desa Banyurejo, Tempel, Sleman. Fokus kegiatan ini adalah edukasi dan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini diabetes mellitus, stroke, dan kanker payudara. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan yang mendukung SDG 3.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 15 September 2024 ini melibatkan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) dan sadanis (pemeriksaan payudara secara klinis). Pemeriksaan kesehatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan masyarakat, khususnya terkait risiko diabetes mellitus dan kanker payudara, serta memberikan edukasi praktis mengenai langkah pencegahan.

Dari hasil pemeriksaan, rata-rata kadar glukosa darah berada dalam rentang normal, yaitu 104 g/dL. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Banyurejo memiliki pola konsumsi yang relatif baik dalam menjaga kestabilan kadar gula darah. Namun, tim juga memberikan edukasi pentingnya menjaga pola makan sehat dan rutin berolahraga untuk mencegah risiko diabetes di masa depan.

Sebagai langkah pencegahan kanker payudara, para peserta diajarkan teknik SADARI (Periksa Payudara Sendiri) pada pertemuan sebelumnya untuk mendeteksi dini adanya kelainan. Setelah mendapatkan edukasi, peserta mempraktikkan SADARI di rumah masing-masing dan tidak menemukan adanya kelainan pada payudara mereka. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kebiasaan pemeriksaan mandiri secara berkala.

Kegiatan ini sukses dilaksanakan berkat kerja sama antara tim dosen farmakologi FKKMK UGM yaitu Dr. dr. Rul Afiyah Syarif, M.Kes., dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed dan tiga mahasiswa, yaitu Alfina Agoestine, Nadya Faiza Khairunnisa, dan Janveri Balige Simanjuntak. Partisipasi aktif mahasiswa memberikan nilai tambah dalam membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat dan mendukung kelancaran proses kegiatan.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan manfaat nyata bagi warga Desa Banyurejo dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang pencegahan PTM. Pemeriksaan GDS menunjukkan kondisi kesehatan yang baik, sementara edukasi SADARI diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam deteksi dini kanker payudara. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak menular.

Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi Melakukan Edukasi Penggunaan Doping Bagi Atlet dalam Masa Pengobatan Medis untuk Sukseskan PON 2024

Berita Wednesday, 28 August 2024

Sanksi yang diterima Atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 akibat terbukti mengkonsumsi doping, menjadi warning serius bagi seluruh Atlet yang akan berlaga pada PON 2024 (awal September 2024). Pasalnya, pada PON 2021 lalu, 3 orang peraih medali Emas, 1 Perak dan 1 Perunggu, dicabut kemenangannya, diminta mengembalikan seluruh hadiah yang diterima beserta bonusnya, dan mendapat skorsing bahkan hingga 4 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Dr.rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc. dalam acara Round Tabel Discussion (RTD). Acara yang diselenggarakan oleh RS Siloam Yogyakarta, pada tanggal 22 Agustus 2024 ini dibuka oleh Direktur Rumah Sakit Siloam, beserta Ketua Umum Nasional Anti-Doping Organization (IADO) Gatot S. Dewa Broto.

Dalam acara tersebut, sosialisasi program anti-doping dengan judul “Raih Prestasi PON Tanpa Doping” dimulai dengan pemaparan materi mengenai resiko cedera dan cara mencegahnya bagi para atlet dan pelatih, oleh Dr. dr. Meiky Fredianto Sp.OT(K), AIFO-K, FCIS. Terlebih karena waktu perlombaan yang sudah makin dekat, penanganan Atlet cidera menjadi fokus utama tim medis pada saat ini. “Ada beberapa jenis obat yang mungkin termasuk doping namun sangat diperlukan untuk terapi pengobatan”, ujarnya. Obat-obatan semacam ini wajib dimintakan izin penggunaannya melalui Therapeutic Use Exemption (TUE) atau semacam izin khusus penggunaan obat akibat kondisi medis tertentu.

Akan tetapi, mengingat sulitnya mengetahui apakah suatu sediaan obat mengandung zat doping atau tidak, maka Arko mensosialisasikan aplikasi skrining doping yang telah ia buat bersama tim, agar dapat digunakan bagi Tim Medis yang akan mendampingi Atlet PON 2024. “Melalui applikasi ini, tim medis dengan mudah dapat mengetahui apakah sediaan obat yang akan / telah diberikan kepada Atlet masuk katergori list doping atau tidak”, ucapnya.

Harapannya, jika obat tersebut mengandung zat doping namun benar-benar dibutuhkan oleh Atlet karena kondisi medis yang dialami, maka pengajuan izin khusus penggunaan (TUE) dapat diajukan kepada National Anti-Doping Organization atau yang kita kenal sebagai IADO”, ujar Arko. Kondisi-kondisi medis khusus yang dimaksud antara lain pengobatan akibat cidera serius, Atlet dengan riwayat Asma kambuhan, atlet dengan penyakit jantung, ataupun karena ada riwayat medis lain yang memaksa Atlet harus mengonsumsi obat tersebut.

Dengan adanya sosialisasi terkait Therapeutic Use Exemptions (TUE) semacam ini, diharapkan dapat membantu kontingen DIY mempersiapkan atletnya dalam kompetisi nasional PON 2024 di Medan dan Aceh dengan lebih baik. “Pendataan Atlet dan konsultasi jenis-jenis obat yang digunakan para Atlet dalam masa cidera, bisa dilakukan mulai dari sekarang, agar dapat termonitor dengan lebih baik”, ujarnya. Selain dari Ketua Umum IADO, acara ini juga mendapat apresiasi luar biasa dari para Atlet dan Pelatih DIY yang akan berlaga di PON 2024 nanti. Kegiatan edukasi ini sejalan dengan komitmen UGM untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Penulis: Santi Andriyani

Pemberdayaan Masyarakat Desa Banyurejo dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular: Fokus pada Kanker Payudara

Beritablog Tuesday, 20 August 2024

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian utama di Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun deteksi dini secara signifikan dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Menyadari pentingnya langkah preventif ini, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Desa Banyurejo, Tempel, Sleman dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular, dengan fokus pada edukasi dan pelatihan terkait kanker payudara sebagai salah satu kegiatan yang mendukung SDG 3 dan 4.

Kanker payudara adalah jenis kanker yang berkembang di jaringan payudara, terutama di saluran susu (duktus) atau kelenjar susu (lobulus). Penyebab pasti kanker payudara masih belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit ini, seperti riwayat keluarga, usia, perubahan hormonal, obesitas, konsumsi alkohol, dan gaya hidup yang tidak aktif.

Deteksi dini kanker payudara sangat penting untuk meningkatkan kemungkinan kesembuhan. Salah satu metode deteksi dini yang sederhana adalah SADARI (Periksa Payudara Sendiri). SADARI adalah pemeriksaan payudara secara mandiri untuk mendeteksi adanya perubahan atau kelainan, seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran payudara, serta keluarnya cairan yang tidak normal dari puting. SADARI sebaiknya dilakukan secara rutin setiap bulan, idealnya beberapa hari setelah menstruasi selesai, karena pada waktu ini jaringan payudara cenderung lebih lunak dan tidak bengkak.

Langkah-langkah dalam SADARI meliputi:

  • Berdiri di depan cermin dan mengamati payudara untuk melihat adanya perubahan bentuk, ukuran, atau warna kulit.
  • Mengangkat kedua lengan dan memeriksa perubahan di bagian bawah payudara.
  • Memeriksa payudara dengan menggunakan tiga ujung jari secara melingkar, dari luar ke arah dalam, termasuk area ketiak.
  • Memeriksa puting untuk memastikan tidak ada cairan yang keluar secara tidak normal.
  • Berbaring dan mengulangi langkah pemeriksaan untuk memastikan tidak ada kelainan yang terlewat.
  • read more

    Penyuluhan Pencegahan dan Perawatan Stroke di Desa Banyurejo, Tempel, Sleman: Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat dalam Menghadapi Penyakit Tidak Menular

    Beritablog Monday, 22 July 2024

    Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu, baik karena penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak (stroke hemoragik). Gangguan aliran darah ini menyebabkan kerusakan sel-sel otak yang dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, tergantung pada bagian otak yang terkena. Faktor risiko utama stroke antara lain hipertensi, diabetes mellitus, merokok, kolesterol tinggi, obesitas, serta faktor genetik.
    Waktu kritis setelah terjadinya stroke sangat menentukan dalam upaya untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan. Golden period stroke terjadi pada 4,5 jam pertama sejak gejala stroke muncul. Selama periode ini, pengobatan yang tepat dan cepat dapat mengurangi kerusakan otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah.
    Namun, jika penanganan terlambat dan lebih dari periode golden period, terapi trombolitik tidak lagi efektif, dan peluang pemulihan otak berkurang secara signifikan. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini gejala stroke dan segera mencari pertolongan medis sangatlah penting. Mengenali tanda-tanda stroke seperti wajah menurun pada satu sisi, kelemahan di lengan atau kaki, kesulitan berbicara, atau kebingungan mendadak, dapat membantu mempercepat penanganan medis yang krusial dalam golden period.

    Kegiatan Penyuluhan di Desa Banyurejo

    Pada tanggal 13 Juli 2024, kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Penyuluhan Pencegahan dan Perawatan Stroke dilaksanakan di Desa Banyurejo, Tempel, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mencegah stroke, mengidentifikasi gejala awalnya, serta cara merawat pasien stroke setelah pulang dari rumah sakit. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung ketercapaian SDG 3.
    Kegiatan dimulai dengan pretest untuk mengukur pengetahuan awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed, dosen departemen farmakologi FKKMK UGM. Dalam pemaparan materi, dr. Mia menjelaskan dengan detail tentang gejala stroke, faktor risiko, dan penanganannya, termasuk pentingnya golden period dalam meminimalkan kerusakan otak pada pasien stroke. Peserta juga diberikan materi tentang perawatan pasien pasca-stroke, khususnya perawatan di rumah, yang sangat penting bagi keluarga pasien untuk memfasilitasi proses pemulihan.
    Selain itu, peserta diberi leaflet yang memuat informasi tentang stroke dan langkah-langkah perawatan pasca-stroke, yang memungkinkan mereka untuk mempelajari materi lebih lanjut setelah kegiatan selesai. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 35% setelah mengikuti penyuluhan.
    Dengan pengetahuan yang lebih baik tentang stroke dan golden period, diharapkan masyarakat Desa Banyurejo dapat lebih siap dalam mengenali tanda-tanda stroke dan segera mencari pertolongan medis, serta dapat memberikan perawatan yang lebih baik untuk anggota keluarga yang terkena stroke. Edukasi ini merupakan langkah penting dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan di Desa Banyurejo.

    Pelatihan Perawatan Luka Diabetes di Rumah Tangga

    Beritablog Monday, 10 June 2024

    Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023 mendapatkan bahwa prevalensi diabetes melitus (DM) Indonesia di tahun 2023 meningkat dibandingkan tahun 2018 yaitu dari 1,5% menjadi 1,7 % untuk semua umur dan 2,0% menjadi 2,2 % untuk usia ≥ 15 tahun. Prevalensi DM di Propinsi DIY sebesar 2,9%, suatu angka yang melebihi tingkat nasional (SKI, 2023). Banyak faktor yang mempengaruhi peningkatan ini yang tentunya sudah diupayakan oleh pemerintah agar jumlahnya tidak cepat melonjak, dan bila sudah diderita maka dicegah tetap terkendali dan tidak menimbulkan komplikasi yang tidak diharapkan. Meskipun demikian partisipasi dari masyarakatlah yang paling utama dalam pengendalian ini.

    Diabetes melitus yang sudah ada di dalam diri individu seringkali tidak disadari atau diketahui secara dini karena kurangnya pengetahuan tentang seluk beluk penyakit ini. Hal ini menyebabkan penderita datang atau dibawa keluarganya ke pelayanan kesehatan dalam kondisi kadar gula darah tinggi atau sudah muncul komplikasi. Dampak dari penyakit tidak hanya berpengaruh bagi penderita namun juga keluarganya. Penambahan pengetahuan terkait faktor resiko, gejala, tanda, komplikasi dan pencegahannya kepada keluarga dalam hal ini ibu rumah tangga diharapkan dapat menjadi salah satu ujung tombak dalam pengendalian DM dan komplikasinya. Salah satu komplikasi yang sering terjadi dan dapat ditangani di rumah adalah luka akibat diabetes. Karena ketidaktahuan dalam perawatan luka, keluarga menggantungkan perawatan tersebut pada tempat pelayanan kesehatan. Perawatan yang tidak dilakukan secara rutin karena berbagai alasan antara lain biaya, waktu tidak sesuai jadwal yang diinginkan, tidak ada keluarga yang mengantar ke pelayanan kesehatan berpengaruh memperburuk keadaan. Padahal perawatan luka yang baik berkontribusi untuk kesembuhan luka dan meningkatkan kualitas hidup penderita.

    Terkait hal tersebut maka Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada memberikan edukasi tentang seluk beluk diabetes melitus dan praktek perawatan luka dibetes kepada ibu-ibu PKK di Senoboyo, Banyurejo, Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai salah satu pedukuhan dengan jumlah penderita Diabetes yang cukup banyak. Tim yang dipimpin oleh dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed (Departemen Farmakologi dan Terapi) memberikan materi berupa Diabetes mellitus pencegahan dan penanggulangan (oleh Dr. dr .Rul Afiyah Syarif, M.Kes, Departemen Farmakologi dan Terapi) dan pelatihan disertai praktek perawatan luka dibetes (oleh Azimatunnisa’, S.Kep.Ns. , perawat bangsal Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito). Kegiatan diselenggarakan pada Sabtu, 8 Juni 2024.

    Kegiatan diawali dengan pre-test dilanjutkan materi inti (edukasi dan pelatihan) dan post-test. Praktek perawatan luka oleh ibu-ibu PKK yang terbagi dalam kelomok-kelompok kecil membuat materi menjadi mudah dipahami dan diikuti oleh peserta. Edukasi yang diberikan menghasilkan peningkatan pengetahuan sebesar 74%. Pelatihan ini merupakan upaya pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan tujuan SDG’s 3 dan 17 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera serta kemitraan untuk mencapai tujuan.

    Kegiatan abdimas ini diharapkan dapat peserta terapkan dalam keluarga dan masyarakat sekitar yang membutuhkan sehingga kejadian DM bisa ditekan, dicegah, dan mendapat penanganan sedini mungkin agar komplikasi terhindarkan.

    Waspada, Usia Lanjut Berpotensi Hipertensi Sistolik Terisolasi

    BeritaEducation Friday, 20 October 2023

    Angka Harapan Hidup (AHH) semakin meningkat dari tahun ketahun baik di negara berkembang maupun sedang berkembang seperti Indonesia. Rata-rata AHH orang Indonesia di tahun 2018 adalah 73 tahun dan naik menjadi 73,6 tahun di tahun 2022. Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan AHH terbanyak, baik untuk laki-laki maupun perempuan dengan rata-rata AHH berturut-turut adalah 73,28 dan 76,93 tahun (BPS, 2023). Hal ini berdampak semakin banyak persentase lanjut usia dan masalah kesehatan yang dijumpai di usia lanjut.

    Masalah kesehatan berupa penyakit tidak menular (PTM) antara lain hipertensi, penyakit sendi, diabetes melitus, stroke, penyakit jantung, gangguan gigi dan mulut sering dijumpai di lanjut usia (lansia).  Jumlah hipertensi di usia lebih dari 18 tahun pada tahun 2013 sekitar 25,8% dan naik menjadi 34,1 % % atau sekitar 63 juta penduduk  di tahun 2018. Jumlah hipertensi di Propinsi DIY menduduki tempat kedua setelah provinsi Sulawesi Utara dan jumlahnya semakin meningkat dengan bertambahnya umur baik di usia pra lansia (45-59 tahun) dan lansia (lebih dari 60 tahun) (Riskesdas 2018). Jumlah hipertensi di usia lansia yang lebih dari 60 % (Kemenkes, 2021) dan beresiko tinggi untuk terjadinya stroke dan penyakit jantung mendorong dilakukan skrining melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan oleh Tim pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada telah dilaksanakan di bulan Juni-Oktober 2023 dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Banyurejo, Tempel, Sleman dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular”.

    Saat kegiatan edukasi tentang hipertensi, ternyata ada lansia yang bertanya “Bu, hipertensi niku nopo to?” (Bu, apakah hipertensi itu?).  Ini merupakan salah satu contoh bahwa masih ada masyarakat dalam hal ini lansia tidak paham tentang pengertian dan mungkin hal lain terkait hipertensi seperti dampak dari hipertensi, cara pencegahan, pemicu, dan lain-lainnya meskipun istilah hipertensi telah sering didengar. Untuk itu tulisan ini akan menguraikan seluk beluk terkait tekanan darah dan hipertensi serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan agar tetap sehat meskipun punya hipertensi.

    Apakah yang dimaksud dengan tekanan darah dan hipertensi? Tekanan darah adalah tekanan darah yang mendorong dinding pembuluh darah arteri, yaitu suatu pembuluh darah yang menghantarkan darah dari jantung ke seluruh tubuh. Tekanan darah diukur menggunakan 2 angka yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik yang dinyatakan dengan satuan milimeter air raksa (Hydrargyrum) atau mmHg. Tekanan sistolik menunjukkan tekanan di arteri saat jantung berdenyut dan diastolik merupakan tekanan di arteri saat jantung beristirahat di antara denyut jantung. Contoh tekanan darah seseorang 120/80 mmHg artinya orang tersebut mempunyai tekanan darah sistolik 120 dan diastolik 80 mmHg. Tekanan darah melebihi dari normal disebut hipertensi.

    Berapa angka tekanan darah disebut hipertensi? Dikategorikan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan/atau diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg. Bila tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik kurang dari 90 mmHg digolongkan hipertensi sistolik terisolasi (HST). Angka tekanan diastolik yang normal pada HST seringkali kurang mendapat perhatian karena anggapan bahwa tekanan darah ini tidak berbahaya.

    Kegiatan pengabdian masyarakat mendapatkan bahwa di Senoboyo Banyurejo terdapat 36,67 % Lansia dan 40% pra lansia hipertensi. Hipertensi sistolik terisolasi dijumpai 20% di lansia dan 30% di pralansia atau dari total penderita hipertensi  dijumpai 54,54% lansia dan 75% pra lansia merupakan HST. Angka kejadian HST di Indonesia pada usia lebih dari 40 tahun adalah 7,12%.  Nilai ini lebih rendah karena besar sampelnya sangat tinggi, yaitu diambil dari 22 kotamadya/kabupaten di Indonesia. Umur, diabetes melitus, gagal ginjal, dan lama kebiasaan merokok didapatkan berhubungan erat dengan  HST (Soejono, 2023). Meskipun angka tekanan diastolik dibawah 90 mmHg, hipertensi sistolik terisolasi tidak boleh diremehkan.

    Usia lanjut sering muncul HST karena dikaitkan adanya arteriosklerosis (kekakuan) pembuluh darah besar.  Seiring dengan bertambahnya usia maka tekanan darah sistolik meningkat secara linear atau gambarannya seperti garis lurus yang cenderung mengarah ke atas. Tekanan darah diastolik juga meningkat, dan di usia 50 atau 60-an diastolik menurun secara bertahap.  Jadi, HST merupakan penyebab paling umum peningkatan tekanan darah lansia sehingga apa yang dijumpai di dusun Senoboyo sesuai dengan teori yaitu HST menjadi jenis hipertensi tertinggi.

    Apa dampak dari hipertensi sistolik terisolasi? Seperti jenis hipertensi yang lain, HST yang tidak terkontrol akan beresiko untuk merusak pembuluh darah yang ada di seluruh tubuh. Hal ini akan menyebabkan penyakit lain muncul seperti serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, gagal jantung dan penyakit lainnya. Hipertensi merupakan faktor resiko yang terbanyak dan bisa dicegah untuk penyakit tersebut. Hipertensi sistolik terisolasi yang terkontrol (tekanan darah terjaga baik dengan obat dan menjaga gaya hidup sehat) akan menurunkan kejadian stroke, penyakit jantung, ginjal, dan kematian.

    Apa saja tanda dan gejala HST? Sayangnya sebagian besar pasien yang menderita HST tidak menunjukkan tanda dan gejala apapun. Satu-satunya cara agar kita bisa mengetahui apakah kita menderita HST adalah dengan cara mengukur tekanan darah secara berkala.

    Apa yang harus dilakukan agar terhindar dari HST? Mengubah gaya hidup sehari-hari merupakan hal utama agar terhindar dari HST. Menurunkan berat badan dapat membantu dalam menurunkan tekanan darah. Makanan yang direkomendasikan untuk penderita penyakit tekanan darah tinggi dikenal dengan istilah DASH diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension) . Diet DASH menganjurkan penderita hipertensi untuk mengkonsumsi sayur, gandum, produk susu rendah lemak, buah, protein tanpa lemak, kacang-kacangan dan biji-bijian. Selain itu, konsumsi garam dibatasi sebanyak 2300 gram/hari. Olahraga yang disarankan adalah olahraga aerobik selama 30 menit per hari selama 5 kali dalam seminggu. Merokok perlu dihentikan karena rokok dapat menyebabkan kekakuan pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan darah. Modifikasi gaya hidup yang juga tidak kalah penting adalah memanajemen stress dengan cara yoga, meditasi atau menghabiskan waktu di alam.

    Usia tua tidak dapat dicegah, demikian pula munculnya HST karena faktor usia yang semakin menua. Namun dampak HST dapat dihindari dengan mengubah gaya hidup sehari-hari sejak dini, dan bukan saat usia menua. Mari lakukan gaya hidup sehat agar tetap sehat dan bahagia di usia tua.

    Penulis

    1. Rul Afiyah Syarif
    2. Mia Munawaroh Yuniyanti

    Daftar Pustaka

  • Permenkes RI. 2015. Permenkes no 67 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Lanjut Usia di Pusat Kesehatan Masyarakat.
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Kepmenkes No HK.01.07/MENKES/4634/2021 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Hipertensi Dewasa
  • Badan Pusat Statistik (BPS). 2023. Angka Harapan Hidup (AHH) Menurut Provinsi dan Jenis Kelamin (Tahun), 2020-2022. Diakses 25 September 2023. https://www.bps.go.id/indicator/40/501/1/angka-harapan-hidup-ahh-menurut-provinsi-dan-jenis-kelamin.html
  • Czeresna Heriawan Soejono. 2023. Hipertensi sistolik terisolasi di Indonesia, prevalensi dan faktor risiko. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
  • Tan JL, Thakur K. Systolic Hypertension. [Updated 2023 Jan 23]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482472
  • read more

    12

    Recent Posts

    • Dosen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM Raih Gelar Doktor dari University of Leeds
    • Penguatan Kapasitas Peneliti melalui Pelatihan Model Hewan Coba di FK-KMK UGM
    • Partisipasi FK-KMK UGM pada Asian Conference on Pharmacoepidemiology 2025
    • Pengabdian Masyarakat UGM Dorong Pencegahan Leptospirosis dan Ketahanan Gizi melalui Program REWANG di Sompok, Imogiri, Bantul
    • Pelatihan Pembuatan Model Hewan Coba untuk Penelitian Immunomodulator, Diabetes Mellitus dan Hipertensi
    Universitas Gadjah Mada

    Departemen Farmakologi dan Terapi

    FAKULTAS KEDOKTERAN KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEPERAWATAN

    Gedung Radioputro, Lt 2, Sayap Timur

    Jalan Farmako, Sekip Utara, Yogyakarta, 55281

    Telp (0274) 511103 Fax (0274) 511103

    Email: farmakologi.fk@ugm.ac.id

    © Farmakologi FKKMK Universitas Gadjah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY