Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM Bersama Departemen Mikrobiologi menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan pada Sabtu, 15 November 2025, di Padukuhan Sompok, Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul. Kegiatan ini mengusung tema “Pengendalian Leptospirosis dan Pemberdayaan Masyarakat melalui REWANG (Relawan dan Warga Antisipasi Keracunan Pangan dan Peduli Gizi Seimbang)”.
abdimas
Klaster Biomedis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di SMP Negeri 2 Imogiri pada 6 Agustus 2025. Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, yaitu dr. Rul dan dr. Yolanda, yang turut berperan aktif dalam seluruh rangkaian acara.
Pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran kesehatan dan mendorong perilaku hidup sehat di kalangan remaja. Rangkaian kegiatan meliputi pemeriksaan kesehatan dasar bagi siswa, yang mencakup pengukuran tekanan darah, pemeriksaan tinggi dan berat badan, serta penilaian status gizi. Selain itu, tersedia layanan konsultasi kesehatan yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkonsultasi langsung mengenai masalah kesehatan fisik maupun kebiasaan hidup sehari-hari.

Tema kegiatan ini berangkat dari bagaimana memaknai kesehatan sebagai aset paling berharga dalam kehidupan. Tidak peduli seberapa banyak kekayaan materi yang dimiliki seseorang, jika tidak sehat, mereka tidak dapat menikmatinya dengan optimal. Masyarakat perlu memahami bahwa investasi dalam gaya hidup sehat lebih baik daripada menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan setelah sakit. Pemerintah juga perlu mendukung program kesehatan preventif, seperti imunisasi, skrining penyakit, dan edukasi gizi. Kesehatan yang baik memungkinkan seseorang untuk bekerja lebih produktif, merawat keluarga, dan berkontribusi pada komunitas. Sebaliknya, jika banyak warga sakit, ekonomi dan kesejahteraan sosial juga akan terdampak.

Staf dosen dan tenaga kependidikan Departemen Farmakologi dan Terapi ikut bertugas dalam kegiatan ini antara lain dengan memberikan konsultasi kesehatan pada warga dusun Sompok, menjadi among tamu bagi para warga dan pemangku kepentingan yang hadir, melakukan pemeriksaan tinggi badan/berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan darah, penghitungan Indeks Massa Tubuh, serta menyiapkan administrasi dan konsumsi kegiatan. Kegiatan ini merupakan langkah mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan tujuan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dengan dukungan pendanaan program Abdimas FK-KMK UGM tahun 2024, Departemen Farmakologi dan Terapi menyelenggarakan Akademia (Aksi Kampus Peduli Anemia) yaitu program yang bertujuan untuk menyediakan layanan manajemen anemia secara holistik bagi populasi remaja putri di lingkungan kampus. Kegiatan ini terdiri atas layanan kesehatan terintegrasi, meliputi deteksi dini, tatalaksana, monitoring, media promotif-preventif, dan edukasi gizi berkaitan dengan anemia. Akademia telah berjalan sejak Maret 2024, termasuk skrining aktif kadar hemoglobin (Hb) terhadap 412 peserta mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta. Kegiatan ini melibatkan partisipasi mahasiswa, dosen, dan alumni FK-KMK, UGM.
Dari kegiatan skrining tersebut diperoleh data bahwa sebanyak 66.3% partisipan memiliki kadar Hb di bawah rata-rata (5.9% masuk kategori anemia berat) dan 57.8% mengeluhkan sedikitnya satu gejala anemia. Selain kegiatan skrining, Akademia juga melaksanakan program tatalaksana anemia secara komprehensif bagi mahasiswa dengan anemia simtomatis. Program ini meliputi pemberian tablet tambah darah selama 12 minggu, edukasi gizi, edukasi gaya hidup, dan monitoring kadar Hb secara rutin. Sampai dengan Desember 2024, sebanyak 63 peserta telah mengikuti program tatalaksana anemia komprehensif. Di masa mendatang, program Akademia diharapkan dapat menjadi program piloting manajemen anemia holistik bagi remaja putri usia kuliah.

Diabetes mellitus, khususnya tipe 2, ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat resistensi insulin atau kekurangan produksi insulin. Kondisi ini sering kali berkembang secara perlahan tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti penyakit jantung, stroke, dan kerusakan ginjal. Gaya hidup sehat, seperti pola makan yang seimbang, aktivitas fisik rutin, dan pengendalian berat badan, memainkan peran penting dalam pencegahan diabetes mellitus.
Kanker payudara, di sisi lain, adalah jenis kanker paling umum pada wanita dan dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia. Deteksi dini melalui pemeriksaan payudara mandiri (SADARI) dan pemeriksaan klinis (sadanis) sangat penting untuk meningkatkan kemungkinan kesembuhan. Faktor risiko kanker payudara meliputi riwayat keluarga, usia, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti konsumsi alkohol dan kurangnya aktivitas fisik.
Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan PTM, tim dosen bersama tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat di Dusun Senoboyo, Desa Banyurejo, Tempel, Sleman. Fokus kegiatan ini adalah edukasi dan pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi dini diabetes mellitus, stroke, dan kanker payudara. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan yang mendukung SDG 3.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 15 September 2024 ini melibatkan pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) dan sadanis (pemeriksaan payudara secara klinis). Pemeriksaan kesehatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran kondisi kesehatan masyarakat, khususnya terkait risiko diabetes mellitus dan kanker payudara, serta memberikan edukasi praktis mengenai langkah pencegahan.
Dari hasil pemeriksaan, rata-rata kadar glukosa darah berada dalam rentang normal, yaitu 104 g/dL. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Desa Banyurejo memiliki pola konsumsi yang relatif baik dalam menjaga kestabilan kadar gula darah. Namun, tim juga memberikan edukasi pentingnya menjaga pola makan sehat dan rutin berolahraga untuk mencegah risiko diabetes di masa depan.
Sebagai langkah pencegahan kanker payudara, para peserta diajarkan teknik SADARI (Periksa Payudara Sendiri) pada pertemuan sebelumnya untuk mendeteksi dini adanya kelainan. Setelah mendapatkan edukasi, peserta mempraktikkan SADARI di rumah masing-masing dan tidak menemukan adanya kelainan pada payudara mereka. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan dan kebiasaan pemeriksaan mandiri secara berkala.
Kegiatan ini sukses dilaksanakan berkat kerja sama antara tim dosen farmakologi FKKMK UGM yaitu Dr. dr. Rul Afiyah Syarif, M.Kes., dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed dan tiga mahasiswa, yaitu Alfina Agoestine, Nadya Faiza Khairunnisa, dan Janveri Balige Simanjuntak. Partisipasi aktif mahasiswa memberikan nilai tambah dalam membangun komunikasi yang efektif dengan masyarakat dan mendukung kelancaran proses kegiatan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini memberikan manfaat nyata bagi warga Desa Banyurejo dalam meningkatkan pemahaman mereka tentang pencegahan PTM. Pemeriksaan GDS menunjukkan kondisi kesehatan yang baik, sementara edukasi SADARI diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam deteksi dini kanker payudara. Dengan kegiatan seperti ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah penyakit tidak menular.

Dalam acara tersebut, sosialisasi program anti-doping dengan judul “Raih Prestasi PON Tanpa Doping” dimulai dengan pemaparan materi mengenai resiko cedera dan cara mencegahnya bagi para atlet dan pelatih, oleh Dr. dr. Meiky Fredianto Sp.OT(K), AIFO-K, FCIS. Terlebih karena waktu perlombaan yang sudah makin dekat, penanganan Atlet cidera menjadi fokus utama tim medis pada saat ini. “Ada beberapa jenis obat yang mungkin termasuk doping namun sangat diperlukan untuk terapi pengobatan”, ujarnya. Obat-obatan semacam ini wajib dimintakan izin penggunaannya melalui Therapeutic Use Exemption (TUE) atau semacam izin khusus penggunaan obat akibat kondisi medis tertentu.
Akan tetapi, mengingat sulitnya mengetahui apakah suatu sediaan obat mengandung zat doping atau tidak, maka Arko mensosialisasikan aplikasi skrining doping yang telah ia buat bersama tim, agar dapat digunakan bagi Tim Medis yang akan mendampingi Atlet PON 2024. “Melalui applikasi ini, tim medis dengan mudah dapat mengetahui apakah sediaan obat yang akan / telah diberikan kepada Atlet masuk katergori list doping atau tidak”, ucapnya.
Harapannya, jika obat tersebut mengandung zat doping namun benar-benar dibutuhkan oleh Atlet karena kondisi medis yang dialami, maka pengajuan izin khusus penggunaan (TUE) dapat diajukan kepada National Anti-Doping Organization atau yang kita kenal sebagai IADO”, ujar Arko. Kondisi-kondisi medis khusus yang dimaksud antara lain pengobatan akibat cidera serius, Atlet dengan riwayat Asma kambuhan, atlet dengan penyakit jantung, ataupun karena ada riwayat medis lain yang memaksa Atlet harus mengonsumsi obat tersebut.
Dengan adanya sosialisasi terkait Therapeutic Use Exemptions (TUE) semacam ini, diharapkan dapat membantu kontingen DIY mempersiapkan atletnya dalam kompetisi nasional PON 2024 di Medan dan Aceh dengan lebih baik. “Pendataan Atlet dan konsultasi jenis-jenis obat yang digunakan para Atlet dalam masa cidera, bisa dilakukan mulai dari sekarang, agar dapat termonitor dengan lebih baik”, ujarnya. Selain dari Ketua Umum IADO, acara ini juga mendapat apresiasi luar biasa dari para Atlet dan Pelatih DIY yang akan berlaga di PON 2024 nanti. Kegiatan edukasi ini sejalan dengan komitmen UGM untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Penulis: Santi Andriyani
Kanker payudara adalah jenis kanker yang berkembang di jaringan payudara, terutama di saluran susu (duktus) atau kelenjar susu (lobulus). Penyebab pasti kanker payudara masih belum diketahui, namun terdapat beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seseorang terkena penyakit ini, seperti riwayat keluarga, usia, perubahan hormonal, obesitas, konsumsi alkohol, dan gaya hidup yang tidak aktif.
Deteksi dini kanker payudara sangat penting untuk meningkatkan kemungkinan kesembuhan. Salah satu metode deteksi dini yang sederhana adalah SADARI (Periksa Payudara Sendiri). SADARI adalah pemeriksaan payudara secara mandiri untuk mendeteksi adanya perubahan atau kelainan, seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran payudara, serta keluarnya cairan yang tidak normal dari puting. SADARI sebaiknya dilakukan secara rutin setiap bulan, idealnya beberapa hari setelah menstruasi selesai, karena pada waktu ini jaringan payudara cenderung lebih lunak dan tidak bengkak.
Langkah-langkah dalam SADARI meliputi:
Waktu kritis setelah terjadinya stroke sangat menentukan dalam upaya untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan. Golden period stroke terjadi pada 4,5 jam pertama sejak gejala stroke muncul. Selama periode ini, pengobatan yang tepat dan cepat dapat mengurangi kerusakan otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah.
Namun, jika penanganan terlambat dan lebih dari periode golden period, terapi trombolitik tidak lagi efektif, dan peluang pemulihan otak berkurang secara signifikan. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini gejala stroke dan segera mencari pertolongan medis sangatlah penting. Mengenali tanda-tanda stroke seperti wajah menurun pada satu sisi, kelemahan di lengan atau kaki, kesulitan berbicara, atau kebingungan mendadak, dapat membantu mempercepat penanganan medis yang krusial dalam golden period.
Kegiatan Penyuluhan di Desa Banyurejo

Pada tanggal 13 Juli 2024, kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk Penyuluhan Pencegahan dan Perawatan Stroke dilaksanakan di Desa Banyurejo, Tempel, Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara mencegah stroke, mengidentifikasi gejala awalnya, serta cara merawat pasien stroke setelah pulang dari rumah sakit. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung ketercapaian SDG 3.
Kegiatan dimulai dengan pretest untuk mengukur pengetahuan awal peserta, dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed, dosen departemen farmakologi FKKMK UGM. Dalam pemaparan materi, dr. Mia menjelaskan dengan detail tentang gejala stroke, faktor risiko, dan penanganannya, termasuk pentingnya golden period dalam meminimalkan kerusakan otak pada pasien stroke. Peserta juga diberikan materi tentang perawatan pasien pasca-stroke, khususnya perawatan di rumah, yang sangat penting bagi keluarga pasien untuk memfasilitasi proses pemulihan.
Selain itu, peserta diberi leaflet yang memuat informasi tentang stroke dan langkah-langkah perawatan pasca-stroke, yang memungkinkan mereka untuk mempelajari materi lebih lanjut setelah kegiatan selesai. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 35% setelah mengikuti penyuluhan.
Dengan pengetahuan yang lebih baik tentang stroke dan golden period, diharapkan masyarakat Desa Banyurejo dapat lebih siap dalam mengenali tanda-tanda stroke dan segera mencari pertolongan medis, serta dapat memberikan perawatan yang lebih baik untuk anggota keluarga yang terkena stroke. Edukasi ini merupakan langkah penting dalam pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesehatan di Desa Banyurejo.
Diabetes melitus yang sudah ada di dalam diri individu seringkali tidak disadari atau diketahui secara dini karena kurangnya pengetahuan tentang seluk beluk penyakit ini. Hal ini menyebabkan penderita datang atau dibawa keluarganya ke pelayanan kesehatan dalam kondisi kadar gula darah tinggi atau sudah muncul komplikasi. Dampak dari penyakit tidak hanya berpengaruh bagi penderita namun juga keluarganya. Penambahan pengetahuan terkait faktor resiko, gejala, tanda, komplikasi dan pencegahannya kepada keluarga dalam hal ini ibu rumah tangga diharapkan dapat menjadi salah satu ujung tombak dalam pengendalian DM dan komplikasinya. Salah satu komplikasi yang sering terjadi dan dapat ditangani di rumah adalah luka akibat diabetes. Karena ketidaktahuan dalam perawatan luka, keluarga menggantungkan perawatan tersebut pada tempat pelayanan kesehatan. Perawatan yang tidak dilakukan secara rutin karena berbagai alasan antara lain biaya, waktu tidak sesuai jadwal yang diinginkan, tidak ada keluarga yang mengantar ke pelayanan kesehatan berpengaruh memperburuk keadaan. Padahal perawatan luka yang baik berkontribusi untuk kesembuhan luka dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Terkait hal tersebut maka Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada memberikan edukasi tentang seluk beluk diabetes melitus dan praktek perawatan luka dibetes kepada ibu-ibu PKK di Senoboyo, Banyurejo, Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai salah satu pedukuhan dengan jumlah penderita Diabetes yang cukup banyak. Tim yang dipimpin oleh dr. Mia Munawaroh Yuniyanti, M.Biomed (Departemen Farmakologi dan Terapi) memberikan materi berupa Diabetes mellitus pencegahan dan penanggulangan (oleh Dr. dr .Rul Afiyah Syarif, M.Kes, Departemen Farmakologi dan Terapi) dan pelatihan disertai praktek perawatan luka dibetes (oleh Azimatunnisa’, S.Kep.Ns. , perawat bangsal Penyakit Dalam, RSUP Dr. Sardjito). Kegiatan diselenggarakan pada Sabtu, 8 Juni 2024.

Kegiatan diawali dengan pre-test dilanjutkan materi inti (edukasi dan pelatihan) dan post-test. Praktek perawatan luka oleh ibu-ibu PKK yang terbagi dalam kelomok-kelompok kecil membuat materi menjadi mudah dipahami dan diikuti oleh peserta. Edukasi yang diberikan menghasilkan peningkatan pengetahuan sebesar 74%. Pelatihan ini merupakan upaya pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan tujuan SDG’s 3 dan 17 yaitu kehidupan sehat dan sejahtera serta kemitraan untuk mencapai tujuan.

Kegiatan abdimas ini diharapkan dapat peserta terapkan dalam keluarga dan masyarakat sekitar yang membutuhkan sehingga kejadian DM bisa ditekan, dicegah, dan mendapat penanganan sedini mungkin agar komplikasi terhindarkan.
Masalah kesehatan berupa penyakit tidak menular (PTM) antara lain hipertensi, penyakit sendi, diabetes melitus, stroke, penyakit jantung, gangguan gigi dan mulut sering dijumpai di lanjut usia (lansia). Jumlah hipertensi di usia lebih dari 18 tahun pada tahun 2013 sekitar 25,8% dan naik menjadi 34,1 % % atau sekitar 63 juta penduduk di tahun 2018. Jumlah hipertensi di Propinsi DIY menduduki tempat kedua setelah provinsi Sulawesi Utara dan jumlahnya semakin meningkat dengan bertambahnya umur baik di usia pra lansia (45-59 tahun) dan lansia (lebih dari 60 tahun) (Riskesdas 2018). Jumlah hipertensi di usia lansia yang lebih dari 60 % (Kemenkes, 2021) dan beresiko tinggi untuk terjadinya stroke dan penyakit jantung mendorong dilakukan skrining melalui kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan oleh Tim pengabdian masyarakat Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada telah dilaksanakan di bulan Juni-Oktober 2023 dengan mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Desa Banyurejo, Tempel, Sleman dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular”.
Saat kegiatan edukasi tentang hipertensi, ternyata ada lansia yang bertanya “Bu, hipertensi niku nopo to?” (Bu, apakah hipertensi itu?). Ini merupakan salah satu contoh bahwa masih ada masyarakat dalam hal ini lansia tidak paham tentang pengertian dan mungkin hal lain terkait hipertensi seperti dampak dari hipertensi, cara pencegahan, pemicu, dan lain-lainnya meskipun istilah hipertensi telah sering didengar. Untuk itu tulisan ini akan menguraikan seluk beluk terkait tekanan darah dan hipertensi serta hal-hal yang sebaiknya dilakukan agar tetap sehat meskipun punya hipertensi.
Apakah yang dimaksud dengan tekanan darah dan hipertensi? Tekanan darah adalah tekanan darah yang mendorong dinding pembuluh darah arteri, yaitu suatu pembuluh darah yang menghantarkan darah dari jantung ke seluruh tubuh. Tekanan darah diukur menggunakan 2 angka yaitu tekanan darah sistolik dan diastolik yang dinyatakan dengan satuan milimeter air raksa (Hydrargyrum) atau mmHg. Tekanan sistolik menunjukkan tekanan di arteri saat jantung berdenyut dan diastolik merupakan tekanan di arteri saat jantung beristirahat di antara denyut jantung. Contoh tekanan darah seseorang 120/80 mmHg artinya orang tersebut mempunyai tekanan darah sistolik 120 dan diastolik 80 mmHg. Tekanan darah melebihi dari normal disebut hipertensi.
Berapa angka tekanan darah disebut hipertensi? Dikategorikan hipertensi bila tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan/atau diastolik lebih besar atau sama dengan 90 mmHg. Bila tekanan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140 mmHg dan diastolik kurang dari 90 mmHg digolongkan hipertensi sistolik terisolasi (HST). Angka tekanan diastolik yang normal pada HST seringkali kurang mendapat perhatian karena anggapan bahwa tekanan darah ini tidak berbahaya.

Kegiatan pengabdian masyarakat mendapatkan bahwa di Senoboyo Banyurejo terdapat 36,67 % Lansia dan 40% pra lansia hipertensi. Hipertensi sistolik terisolasi dijumpai 20% di lansia dan 30% di pralansia atau dari total penderita hipertensi dijumpai 54,54% lansia dan 75% pra lansia merupakan HST. Angka kejadian HST di Indonesia pada usia lebih dari 40 tahun adalah 7,12%. Nilai ini lebih rendah karena besar sampelnya sangat tinggi, yaitu diambil dari 22 kotamadya/kabupaten di Indonesia. Umur, diabetes melitus, gagal ginjal, dan lama kebiasaan merokok didapatkan berhubungan erat dengan HST (Soejono, 2023). Meskipun angka tekanan diastolik dibawah 90 mmHg, hipertensi sistolik terisolasi tidak boleh diremehkan.
Usia lanjut sering muncul HST karena dikaitkan adanya arteriosklerosis (kekakuan) pembuluh darah besar. Seiring dengan bertambahnya usia maka tekanan darah sistolik meningkat secara linear atau gambarannya seperti garis lurus yang cenderung mengarah ke atas. Tekanan darah diastolik juga meningkat, dan di usia 50 atau 60-an diastolik menurun secara bertahap. Jadi, HST merupakan penyebab paling umum peningkatan tekanan darah lansia sehingga apa yang dijumpai di dusun Senoboyo sesuai dengan teori yaitu HST menjadi jenis hipertensi tertinggi.
Apa dampak dari hipertensi sistolik terisolasi? Seperti jenis hipertensi yang lain, HST yang tidak terkontrol akan beresiko untuk merusak pembuluh darah yang ada di seluruh tubuh. Hal ini akan menyebabkan penyakit lain muncul seperti serangan jantung, stroke, gangguan ginjal, gagal jantung dan penyakit lainnya. Hipertensi merupakan faktor resiko yang terbanyak dan bisa dicegah untuk penyakit tersebut. Hipertensi sistolik terisolasi yang terkontrol (tekanan darah terjaga baik dengan obat dan menjaga gaya hidup sehat) akan menurunkan kejadian stroke, penyakit jantung, ginjal, dan kematian.
Apa saja tanda dan gejala HST? Sayangnya sebagian besar pasien yang menderita HST tidak menunjukkan tanda dan gejala apapun. Satu-satunya cara agar kita bisa mengetahui apakah kita menderita HST adalah dengan cara mengukur tekanan darah secara berkala.
Apa yang harus dilakukan agar terhindar dari HST? Mengubah gaya hidup sehari-hari merupakan hal utama agar terhindar dari HST. Menurunkan berat badan dapat membantu dalam menurunkan tekanan darah. Makanan yang direkomendasikan untuk penderita penyakit tekanan darah tinggi dikenal dengan istilah DASH diet (Dietary Approaches to Stop Hypertension) . Diet DASH menganjurkan penderita hipertensi untuk mengkonsumsi sayur, gandum, produk susu rendah lemak, buah, protein tanpa lemak, kacang-kacangan dan biji-bijian. Selain itu, konsumsi garam dibatasi sebanyak 2300 gram/hari. Olahraga yang disarankan adalah olahraga aerobik selama 30 menit per hari selama 5 kali dalam seminggu. Merokok perlu dihentikan karena rokok dapat menyebabkan kekakuan pembuluh darah yang akan meningkatkan tekanan darah. Modifikasi gaya hidup yang juga tidak kalah penting adalah memanajemen stress dengan cara yoga, meditasi atau menghabiskan waktu di alam.
Usia tua tidak dapat dicegah, demikian pula munculnya HST karena faktor usia yang semakin menua. Namun dampak HST dapat dihindari dengan mengubah gaya hidup sehari-hari sejak dini, dan bukan saat usia menua. Mari lakukan gaya hidup sehat agar tetap sehat dan bahagia di usia tua.
Penulis
- Rul Afiyah Syarif
- Mia Munawaroh Yuniyanti
Daftar Pustaka