Sanksi yang diterima Atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021 akibat terbukti mengkonsumsi doping, menjadi warning serius bagi seluruh Atlet yang akan berlaga pada PON 2024 (awal September 2024). Pasalnya, pada PON 2021 lalu, 3 orang peraih medali Emas, 1 Perak dan 1 Perunggu, dicabut kemenangannya, diminta mengembalikan seluruh hadiah yang diterima beserta bonusnya, dan mendapat skorsing bahkan hingga 4 tahun. Hal tersebut disampaikan oleh Dr.rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc. dalam acara Round Tabel Discussion (RTD). Acara yang diselenggarakan oleh RS Siloam Yogyakarta, pada tanggal 22 Agustus 2024 ini dibuka oleh Direktur Rumah Sakit Siloam, beserta Ketua Umum Nasional Anti-Doping Organization (IADO) Gatot S. Dewa Broto.
SDG 17
Kanker payudara merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi perhatian utama di Indonesia. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun deteksi dini secara signifikan dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Menyadari pentingnya langkah preventif ini, tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Desa Banyurejo, Tempel, Sleman dalam Pencegahan Penyakit Tidak Menular, dengan fokus pada edukasi dan pelatihan terkait kanker payudara sebagai salah satu kegiatan yang mendukung SDG 3 dan 4.
Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Stroke terjadi ketika aliran darah ke bagian otak terganggu, baik karena penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak (stroke hemoragik). Gangguan aliran darah ini menyebabkan kerusakan sel-sel otak yang dapat mengganggu berbagai fungsi tubuh, tergantung pada bagian otak yang terkena. Faktor risiko utama stroke antara lain hipertensi, diabetes mellitus, merokok, kolesterol tinggi, obesitas, serta faktor genetik.
Waktu kritis setelah terjadinya stroke sangat menentukan dalam upaya untuk meminimalkan kerusakan otak dan meningkatkan peluang pemulihan. Golden period stroke terjadi pada 4,5 jam pertama sejak gejala stroke muncul. Selama periode ini, pengobatan yang tepat dan cepat dapat mengurangi kerusakan otak yang disebabkan oleh gangguan aliran darah.
Namun, jika penanganan terlambat dan lebih dari periode golden period, terapi trombolitik tidak lagi efektif, dan peluang pemulihan otak berkurang secara signifikan. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya deteksi dini gejala stroke dan segera mencari pertolongan medis sangatlah penting. Mengenali tanda-tanda stroke seperti wajah menurun pada satu sisi, kelemahan di lengan atau kaki, kesulitan berbicara, atau kebingungan mendadak, dapat membantu mempercepat penanganan medis yang krusial dalam golden period.