Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan kegiatan ilmiah yang bertujuan memperluas wawasan dan keterampilan praktis di bidang terapi berbasis genetika melalui Workshop Pharmacogenomics Role in Precision Medicine pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari lingkungan akademik dan praktisi kesehatan yang antusias mempelajari aplikasi farmakogenomik dalam praktik kedokteran modern.
Workshop ini dirancang untuk menggabungkan teori dan praktik laboratorium sehingga peserta memperoleh pengalaman langsung mengenai tahapan analisis genetik yang berperan penting dalam pengembangan pengobatan presisi. Kegiatan dipandu oleh para dosen dari Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM yang memiliki keahlian di bidang farmakogenomik. Para peserta melakukan serangkaian praktikum yang mencakup DNA isolation, single nucleotide polymorphism (SNP) genotyping menggunakan teknik real-time polymerase chain reaction (RT-PCR), serta pembacaan hasil sekuensing untuk mengidentifikasi variasi genetik yang dapat memengaruhi respon obat.
Keseluruhan rangkaian kegiatan memungkinkan peserta memahami bagaimana data genetik dapat dimanfaatkan dalam menentukan pilihan obat, dosis, serta prediksi risiko efek samping pada pasien. Pendekatan semacam ini menjadi semakin relevan seiring berkembangnya konsep precision medicine yang menempatkan karakteristik biologis individu sebagai dasar utama dalam pengambilan keputusan terapi. Sepanjang workshop, peserta tampak aktif berdiskusi dan bertanya mengenai interpretasi variasi genetik serta implikasinya terhadap praktik klinis. Pendampingan para fasilitator membantu peserta memahami prosedur teknis, termasuk kontrol kualitas sampel, analisis kurva amplifikasi RT-PCR, hingga verifikasi hasil sekuensing.
Kegiatan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3, 4, dan 17. SDG 3 (Good Health and Well-Being) tampak dari upaya peningkatan kualitas pelayanan kesehatan berbasis bukti dan pemanfaatan teknologi modern untuk terapi yang lebih aman dan efektif. SDG 4 (Quality Education) diwujudkan melalui penyelenggaraan workshop edukatif yang meningkatkan kapasitas akademisi dan tenaga kesehatan dalam kompetensi biologi molekuler dan farmakogenomik. Sementara itu, SDG 17 (Partnerships for the Goals) didukung melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, serta pemangku kepentingan pendidikan kesehatan yang bersama-sama mendorong kemajuan ilmu dan praktik kedokteran presisi di Indonesia.