Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan Workshop Optimalisasi eLOK pada Rabu, 22 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan tenaga kependidikan departemen sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dalam pengelolaan pembelajaran berbasis digital. eLOK merupakan sistem pembelajaran daring atau e-learning yang digunakan di Universitas Gadjah Mada. Melalui platform ini, dosen dapat mengelola berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari penyediaan materi kuliah, pengaturan tugas, diskusi, hingga evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu, pemanfaatan eLOK secara optimal menjadi penting untuk mendukung proses pendidikan yang lebih terstruktur, interaktif, dan mudah diakses oleh mahasiswa.
SDG 9
Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan capaian akademik melalui publikasi ilmiah pada jurnal internasional bereputasi Vaccine. Artikel berjudul “Active Surveillance Methods to Identify Adverse Events of Special Interest (AESIs) Following Vaccination Against Pandemic Diseases: A Scoping Review” ditulis oleh tim dosen yang terdiri dari dr. Lukman Ade Chandra, dr. Dhite Bayu Nugroho, dan Prof. Jarir At Thobari.
Yogyakarta, 16 Oktober 2025 – Departemen Farmakologi dan Terapi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan Plenary Lecture dan Konferensi bertema pengembangan teknologi kesehatan. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini dihadiri oleh lebih dari 200 peserta baik dari kalangan akademisi, peneliti, praktisi, hingga pembuat kebijakan di bidang kesehatan, dan pemateri dari dalam dan luar negeri.
Acara dibuka secara resmi oleh Dekanat FK-KMK UGM setelah sambutan dari Ketua Departemen Farmakologi dan Terapi. Kegiatan ini diawali dengan dua sesi Plenary Lecture yang menghadirkan narasumber luar negeri Prof. Dr. Asrul Akmal Shafie dari Universiti Sains Malaysia membawakan materi mengenai The Role of Pharmacoeconomic on HTA and Health Product Development. Dalam materi tersebut ia menyoroti pentingnya evaluasi ekonomi dalam pengambilan keputusan terkait pengembangan produk kesehatan.
Salah satu narasumber utama adalah Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM, Dr.rer.nat. apt. Arko Jatmiko Wicaksono, M.Sc. Dalam paparannya, Arko menegaskan pentingnya penggunaan obat secara bijak dalam mendukung aktivitas kebugaran, khususnya bagi atlet profesional. “Pemilihan obat tidak boleh sembarangan. Harus berbasis diagnosis, legalitas, dan sesuai regulasi Badan Anti Doping Dunia (WADA). Peran farmakolog sangat dibutuhkan untuk memastikan keamanan serta kepatuhan dalam penanganan cedera,” jelasnya. Pandangan ini memperkuat pesan bahwa aspek farmakologi memiliki kontribusi vital dalam pengembangan smart wellness tourism.
Webinar ini juga menghadirkan apt. Firda Ridhayani, M.Clin.Pharm., staf pengajar FK-KMK UGM, yang berperan sebagai moderator. Firda mengarahkan jalannya diskusi secara interaktif sehingga peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai keterkaitan olahraga, gizi, farmakologi, dan manajemen cedera. Kombinasi narasumber berpengalaman dan moderator yang komunikatif membuat kegiatan ini berlangsung dinamis dan sarat manfaat.
Selain menekankan aspek medis, webinar turut membuka ruang bagi mahasiswa Magister Ilmu Biomedik untuk menyampaikan diseminasi ilmiah, yang menambah nilai akademis sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam pengabdian berbasis pengetahuan. Dukungan berbagai pihak, termasuk Pusat Kedokteran Herbal dan PPKORI DIY, memperlihatkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam mendorong sinergi kesehatan dan pariwisata. Kegiatan ini sejalan dengan upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya: SDG 3 (Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan) melalui edukasi pencegahan dan penanganan cedera olahraga, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat diseminasi ilmu dan pembelajaran publik, SDG 9 (Inovasi dan Infrastruktur) dengan pengembangan platform daring pengecekan produk doping, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi akademisi, praktisi, dan komunitas dalam menyukseskan wellness tourism.
Dengan antusiasme peserta yang tinggi dan dukungan para pakar, kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan penting bagi Yogyakarta untuk memperkuat citra sebagai pusat wellness tourism nasional, sekaligus memberi kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman terkait regulasi dan pelaksanaan farmakovigilans, serta memperkuat keterampilan tenaga kesehatan dalam pengawasan obat. Fokus utama dari pelatihan ini adalah untuk meminimalkan keterlambatan dan ketidaktepatan pelaporan efek samping obat yang dapat berdampak pada keselamatan pasien dan sistem kesehatan secara keseluruhan.
Dalam pelatihan ini, Prof Jarir membawakan dua topik utama, yaitu Prinsip-Prinsip Farmakovigilans di Indonesia serta Analisis Kausalitas dan Studi Kasus. Kegiatan pelatihan ini sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan fokus pada peningkatan mutu pelayanan kesehatan melalui pengawasan obat yang lebih baik; SDGs 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, yakni melalui penguatan sistem pelaporan dan inovasi di bidang farmakovigilans dalam industri kesehatan; serta SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan industri kesehatan untuk bersama-sama meningkatkan kapasitas dan kualitas pengawasan obat di Indonesia.


Dalam sesi yang berlangsung selama dua jam ini, dr. Sudi membawakan topik mengenai strategi pencarian literatur berbasis artificial intelligence (AI). Mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai aplikasi AI yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses penelusuran referensi. Aplikasi seperti Scispace, Research Rabbit, dan fitur AI dalam pengelola referensi seperti Zotero menjadi sorotan utama dalam sesi tersebut.
Selain demonstrasi langsung, dr. Sudi juga menekankan pentingnya pemahaman kritis terhadap sumber informasi serta etika dalam penggunaan teknologi berbasis AI. Mahasiswa diajak untuk tetap menjunjung tinggi integritas akademik dalam setiap proses penulisan ilmiah, sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Kegiatan ini disambut antusias oleh mahasiswa yang merasa terbantu dalam mendukung tesis mereka. Kegiatan ini mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-9 tentang inovasi dan infrastruktur.
Pada 19 Februari 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan pertemuan strategis yang membahas pengembangan industri vaksin dan alat diagnostik di Gedung Pusat UGM. Pertemuan ini dihadiri oleh para pakar lintas disiplin termasuk Prof. dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., Ph.D., Guru Besar Departemen Farmakologi dan Terapi, FK-KMK UGM.
Kehadiran Prof. Jarir menjadi representasi penting dari kontribusi FK-KMK UGM dalam riset inovatif bidang farmakologi, khususnya terkait efektivitas, keamanan, dan implementasi klinis vaksin dan alat diagnostik. Dalam diskusi tersebut, Prof. Jarir menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti dalam mendesain dan mengevaluasi intervensi kesehatan yang akan digunakan secara luas di masyarakat.

ARISE didanai oleh proyek subsidi dari Japan Agency for Medical Research and Development (AMED), yaitu pembentukan platform penelitian klinis dan uji klinis untuk mendorong kerja sama penelitian internasional antara Jepang dan negara-negara Asia di bidang penyakit infeksi. ARISE dipimpin oleh Jepang melalui National Center for Global Health and Medicine, ARISE diluncurkan pada tahun 2021 dengan menghimpun institusi-institusi dari Indonesia, Jepang, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam.
Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan negara anggota ARISE, Prof. dr. Jarir At Thobari, D.Pharm., Ph.D mendapat kehormatan untuk menjadi anggota baru ARISE Network. Prof. Jarir juga memberikan presentasi berbagi pengetahuan dan wawasan tentang riset vaksin dan kesiapsiagaan pandemi yang relevan dengan situasi di Asia Tenggara.


Kegiatan ini mendukung beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDG), yaitu SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang merupakan kolaborasi antarnegara untuk menghadapi tantangan global. SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, dengan fokus pada pengembangan vaksin untuk menyiapkan pandemi di masa depan; dan SDG 9; Industri Inovasi dan Infrastruktur karena. ARISE mendorong pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia dalam riset kesehatan, serta membangun infrastruktur inovatif yang diperlukan untuk mendukung riset vaksin dan pengembangan teknologi kesehatan di Asia.